Lokapalanews.id | Saat saya merenung, tiba-tiba saja saya teringat dengan Nelson Mandela. Beliau adalah salah satu tokoh paling ikonik dan berpengaruh dalam sejarah dunia. Ia dikenal sebagai aktivis anti-apartheid, revolusioner, dan politikus yang menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan.
Saya sangat mengagumi Nelson Mandela. Bapak bangsa Afrika Selatan yang satu ini memang ahli dalam merangkai kata. Kalimatnya pendek, tapi menohok. Jauh lebih tajam daripada ceramah panjang yang isinya cuma pameran janji.
Dia bilang, “Penjahat itu tidak pernah membangun negara, mereka hanya memperkaya diri sambil merusak negara.”
Luar biasa! Selama ini kita kira penjahat itu ya yang pakai topeng, bawa pistol, atau yang bikin ulah di jalanan. Rupanya, Nelson Mandela punya definisi lain. Penjahat itu bisa saja pakai jas, dasi, dan duduk manis di ruang ber-AC yang dinginnya sampai menusuk tulang.
Mereka bukan tipe penjahat yang teriak, “Ini perampokan!” Mereka justru berbisik pelan, “Ini investasi, Pak. Untungnya besar.” Padahal, yang untung cuma dia dan kroni-kroninya. Rakyat? Ya, kita-kita ini yang jadi penonton. Nonton pembangunan yang katanya megah, tapi di bawahnya ada utang yang bikin pusing tujuh keliling.
Dulu, pahlawan itu adalah mereka yang mati-matian berjuang untuk kemerdekaan. Sekarang, pahlawan itu sepertinya harus pandai berhitung. Berhitung untung rugi dari setiap proyek. Siapa yang paling untung? Siapa yang paling rugi? Siapa yang paling cepat kaya?
Mereka bukan membangun. Mereka cuma menumpuk-numpuk. Menumpuk harta, menumpuk janji, menumpuk kekuasaan.
Negara ini laksana rumah. Rumah yang seharusnya dibangun dengan semen kejujuran, bata integritas, dan atap keadilan. Tapi, apa yang terjadi? Semennya dicampur pasir curang, batanya dipakai untuk membangun istana pribadi, dan atapnya bocor di mana-mana.
Nelson Mandela tak hanya bicara tentang Afrika Selatan. Dia bicara tentang kita semua. Tentang penyakit korupsi yang tak pernah tuntas. Tentang pejabat yang lebih suka jadi ‘penjahat’ di balik meja.
Jadi, mari kita renungkan. Pahlawan itu yang mana? Yang namanya diabadikan di jalan-jalan besar, atau yang namanya tak dikenal tapi tangannya bersih? Saya kira jawabannya sudah jelas. *yas






