--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Saatnya Merdeka dari Cengkeraman Pemimpin Arogan

Lokapalanews.id | Beberapa hari lalu, saya baca berita soal demo di Pati. Gila, bupati menaikkan pajak sampai 250 persen. Tanpa dialog, tanpa pikir panjang. Seolah rakyat itu cuma angka, bukan manusia.

Melihatnya, saya jadi berpikir. Kita sudah merayakan kemerdekaan selama hampir 80 tahun. Tapi, kenapa masih ada pemimpin yang bersikap seperti raja? Kenapa masih ada yang menganggap kekuasaan itu segalanya, dan suara rakyat hanya angin lalu?

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya seperti ditampar oleh tulisan Ali Musthofa Asrori di Detik.com. Judulnya menusuk: Merdeka dari Pemimpin Arogan. Ia seolah berteriak, “Penjajah dari bangsa sendiri sudah datang!”

Dulu, kita berperang dengan bambu runcing melawan penjajah dari seberang lautan. Kini, musuh kita pakai dasi, duduk di kursi empuk, dan bicara manis di depan kamera. Tapi di balik semua itu, ada arogansi yang jauh lebih berbahaya. Arogansi yang bisa merusak mental bangsa ini.

Ya, ini cermin wajah kepemimpinan kita hari ini. Di mana-mana, arogansi tumbuh subur. Pemimpin menganggap kekuasaan itu tahta, bukan amanah. Mereka pikir jabatan adalah lisensi untuk memaksakan kehendak, menutup telinga, dan merasa paling benar sendiri. Mereka lupa, atau mungkin sengaja lupa, bahwa kursi yang mereka duduki itu titipan dari rakyat.

Pemimpin arogan itu sejatinya tidak percaya diri. Mereka itu seperti kaleng kosong, bunyinya nyaring tapi isinya hampa. Mereka menutupi ketidakmampuan dengan keangkuhan, haus pujian, dan butuh panggung. Mereka tidak bisa berkolaborasi, tidak bisa menerima kritik. Yang paling parah, mereka merusak fondasi kepercayaan yang sudah kita bangun susah payah.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Resepnya adalah kesadaran kritis, akuntabilitas, dan partisipasi publik. Resep itu bagus, tapi saya ingin lebih blak-blakan: rakyat harus berani. Dulu, kita berani angkat bambu runcing. Sekarang, kita harus berani angkat suara. Jangan biarkan arogansi ini berakar hanya karena kita terlalu takut atau apatis.

Baca juga:  Kekuasaan adalah Racun, Ego adalah Pengawetnya

Demokrasi memberi kita senjata paling ampuh: suara. Di bilik suara, kita punya kekuatan untuk memilih. Di ruang publik, kita punya kekuatan untuk mengkritik dan menuntut. Kita tidak boleh diam. Karena diamnya kita adalah pupuk bagi arogansi mereka.

Yang paling penting, kita harus mencari pemimpin yang tidak haus kekuasaan, tidak gila hormat, dan tidak menganggap rakyat sebagai objek penderita. Di tengah banjir pencitraan, mencari pemimpin seperti ini memang sulit. Tapi, bukan berarti mustahil.

Jadi, mari kita jadikan 17 Agustus bukan sekadar seremonial. Mari kita rayakan dengan komitmen nyata: merdeka dari arogansi. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang merdeka secara fisik, tapi yang bebas dari pemimpin yang menindas mental dan hak-haknya.

Saya yakin, esok bisa lebih cerah. Tapi ingat, esok tidak akan cerah jika kita tetap diam dan membiarkan pemimpin arogan berkuasa. Perlawanan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Dengan memilih yang cerdas, menilai dengan kritis, dan berani bersuara. Merdeka! *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."