--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Pelajaran Pahit dari Bupati Pati

Lokapalanews.id | Pati hari ini bukan lagi kota yang tenang. Tensi politik memuncak, pecah menjadi kericuhan yang tak terhindarkan. Pemicunya, lagi-lagi, adalah kebijakan yang tak populer dan sikap yang dianggap arogan. Bupati Pati, Sudewo, dilempari sandal dan botol air mineral saat mencoba menemui massa. Mobil aparat dibakar. Gas air mata ditembakkan. Ini bukan lagi soal perbedaan pendapat, ini adalah ledakan amarah yang sudah lama dipendam.

Awalnya, tuntutan warga adalah pembatalan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 250% yang dianggap mencekik rakyat kecil. Meski kebijakan itu sudah dibatalkan, api amarah tak kunjung padam. Massa tetap turun ke jalan, menuntut hal yang lebih besar: Bupati mundur.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Tuntutan warga meluas. Bukan hanya soal pajak, tapi juga soal kebijakan lain yang dianggap tidak pro-rakyat, seperti penolakan penerapan lima hari sekolah, penolakan renovasi Alun-alun Pati yang menelan anggaran Rp2 miliar, penolakan pembongkaran total Masjid Alun-alun Pati yang bersejarah, mempersoalkan proyek videotron yang memakan biaya hingga Rp1,39 miliar.

Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya satu kebijakan, melainkan akumulasi ketidakpuasan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap jauh dari rakyat. Staf honorer RSUD juga ikut berdemonstrasi, menuntut dipekerjakan kembali setelah diberhentikan. Semua lapisan masyarakat bersatu dalam satu suara: sudah cukup!

Apa Pesannya untuk Para Pemimpin?
Pati hari ini adalah cermin. Ini adalah pesan keras dari rakyat bahwa kekuasaan tidak boleh disalahgunakan. Sikap arogan dan keputusan yang dibuat tanpa mendengar aspirasi rakyat hanya akan mengantarkan pada kehancuran.

Bupati Sudewo menolak mundur, berdalih ia dipilih secara konstitusional. Tapi, bukankah konstitusi juga menggariskan bahwa pemimpin harus melayani rakyatnya? Ketika kepercayaan rakyat sudah hilang, legitimasi kekuasaan akan goyah. Dan hari ini, Pati membuktikan bahwa rakyat bisa menuntut kembali kedaulatan yang pernah mereka berikan.

Baca juga:  EVOS Legends Balas Dendam, Taklukkan RRQ Hoshi 2-1 di MPL ID Season 16 Week 7

Ini pelajaran mahal. Jangan main-main dengan kepercayaan rakyat. Jangan merasa paling benar dan paling berkuasa. Karena pada akhirnya, kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, bukan di tangan kursi jabatan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *