Lokapalanews.id | “Hahahaha… integritas? Omon-omon saja itu!”
Tawa cekikikan teman saya itu masih terngiang jelas. Dulu, kami sedang membahas seorang tokoh yang suaranya paling lantang, paling kritis, paling pedas. Kami pikir, dialah pahlawan yang akan membawa perubahan.
Namun, belakangan ini, saya sadar. Omon-omon, itu bukan sekadar lelucon. Itu adalah nama penyakit. Penyakit yang menyerang mental banyak orang di negeri ini.
Penyakit omon-omon ini punya gejala khas. Awalnya, penderitanya sangat berisik. Mereka lantang mengkritik, berani melawan arus, dan seolah-olah punya nurani paling suci. Mereka pandai merangkai kata-kata manis tentang keadilan, rakyat, dan integritas. Kita semua terhipnotis.
Tapi, begitu ada “obat” yang ditawarkan kekuasaan, penyakit ini langsung akut. Suara kritis yang dulu lantang, mendadak hilang ditelan bumi. Mata yang dulu tajam melihat ketidakadilan, mendadak buta. Prinsip yang dulu kokoh, mendadak luntur seperti cat murahan.
Obatnya? Tak lain tak bukan adalah kekuasaan.
Mereka yang tadinya “pejuang kebenaran”, langsung berubah jadi “penjilat kekuasaan”. Mereka yang dulu berkoar-koar soal korupsi, kini ikut mengantre minta “jatah”.
Kekuasaan Itu Seperti Mikroskop
Kekuasaan itu tidak mengubah seseorang. Kekuasaan itu seperti mikroskop yang memperbesar dan menunjukkan siapa kita sebenarnya.
Orang yang dari awal memang punya mental penjilat, akan terlihat jelas begitu mereka punya kesempatan. Topeng “integritas” yang mereka pakai akan langsung pecah, memperlihatkan wajah aslinya yang penuh ambisi dan kerakusan.
Sedangkan orang yang benar-benar punya prinsip, kekuasaan tidak akan mengubahnya. Kekuasaan hanya akan membuat karakternya semakin kuat, dan komitmennya pada kebenaran semakin tak tergoyahkan.
Jadi, lain kali ada orang yang cuma omon-omon, jangan mudah terbuai. Dengarkan saja, tapi jangan terlalu percaya. Sebab, orang yang punya integritas sejati, tidak perlu banyak bicara. Mereka hanya perlu membuktikan.
Dan sayangnya, di negeri ini, jumlah orang yang cuma omon-omon jauh lebih banyak daripada jumlah orang yang berani membuktikan. Itu kenyataan, dan itu sangat menyedihkan. *yas






