Lokapalanews.id | Saya betul-betul tak menyangka. Mereka yang tadinya diam, tak terlihat ambisinya, ternyata menyimpan bara kekuasaan yang begitu besar. Begitu ada kesempatan, bara itu meledak. Membakar habis akal sehat dan nurani.
Mereka mendadak gila kekuasaan.
Ini bukan sekadar ambisi biasa. Ini penyakit. Sebuah obsesi yang tak sehat, tak terkendali. Ini bukan lagi soal ingin jadi pemimpin, tapi ingin berkuasa dengan segala cara. Mereka bisa jadi sangat manipulatif, bahkan tega mengorbankan orang lain demi tujuannya.
Istilah medisnya mungkin rumit: narsistik megalomania. Tapi sederhananya, ini adalah orang yang hidup di dunianya sendiri. Di dunia itu, ia adalah raja. Paling hebat. Paling benar. Ia yakin, hanya orang setingkat dia yang bisa mengerti.
Orang-orang seperti ini tak punya empati. Ia melihat orang lain sebagai “alat” atau “objek”. Kalau tidak menguntungkan, ya sudah, tak perlu peduli. Saya sering melihat ini. Mereka bisa dengan lantang bilang tak peduli pada orang yang tak memberi manfaat.
Penyakit ini lebih parah dari arogan. Orang arogan masih mungkin minta maaf. Tapi orang dengan penyakit ini? Tidak. Mereka tak pernah merasa bersalah. Mereka hanya melihat nilai pada diri mereka sendiri.
Dalam pergaulan, mereka sulit punya teman sejati. Ide mereka adalah harga mati. Kalau dikritik, mereka akan marah besar, menganggapnya ancaman. Segala cara akan dihalalkan untuk meninggikan status.
Mencuri ide? Biasa. Melempar kesalahan ke orang lain? Sudah jadi kebiasaan. Semua demi satu hal: reputasi dan status diri yang ia bangun di alam ilusinya sendiri.
Ada satu kasus yang menarik. Seorang sahabat yang saya kenal. Dulunya, ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, rendah hati. Begitu menjabat, ia berubah total. Setiap rapat, ia selalu ingin terlihat paling pintar. Setiap ada ide bagus dari staf, ia langsung mengklaimnya sebagai idenya sendiri. Jika ada kesalahan, ia tak segan menyalahkan staf terdekatnya.
Puncaknya, ia memecat seorang staf senior yang sudah belasan tahun mengabdi, hanya karena staf itu berani mengkritik keputusannya. Ia tak peduli dengan dedikasi atau dampak sosial dari keputusannya. Baginya, kritik adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Penting untuk memahami kondisi ini. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk melindungi diri kita. Karena orang-orang seperti ini jarang mau berobat. Mereka merasa tak ada yang salah dengan diri mereka. Akibatnya, orang-orang di sekelilingnya yang justru memilih menjauh.
Jadi, kalau bertemu dengan orang seperti ini, ingatlah: mereka hidup di dunia yang berbeda. Dan yang terpenting, jaga diri Anda. Jangan mudah terpukau. *yas






