Narasi  

Saya sedang duduk di sebuah warung kecil. Lokasinya tidak jauh dari kawasan Kuta. Angin sore itu bertiup cukup kencang. Biasanya, angin membawa aroma laut. Garam…

--- / --- 00:00 WITA
Minta Maaf Saja
Narasi  

Minta Maaf Saja

Saya tertegun sejenak. Membaca berita dari Bali itu. Hari Rabu kemarin. Tepat setahun Wayan Koster memimpin kembali. Kali ini bersama Giri Prasta. Biasanya pidato satu…

Mudik Jangan Mewah
Narasi  

Mudik Jangan Mewah

Saya baru saja mendarat. Di sebuah bandara yang sedang sibuk-sibuknya. Orang sudah mulai bicara tiket. Orang sudah mulai menghitung hari. Padahal Idulfitri masih dua minggu…

Sekolah Tanpa Contoh
Narasi  

Sekolah Tanpa Contoh

Saya termenung. Masih soal dosen IMS itu. Soal pesangon nol rupiah. Soal pengabdian 11 tahun yang dibuang begitu saja. Ini bukan soal pabrik panci. Bukan…

Hormat yang Menyakiti
Narasi  

Hormat yang Menyakiti

Saya sering merenung soal pengabdian. Di negeri ini, pengabdian itu barang mahal. Tapi sering kali harganya murah di mata penguasa. Atau di mata yayasan. Kemarin…

Topeng Itu Retak
Narasi  

Topeng Itu Retak

Saya baru saja menutup telepon dari seorang teman. Suaranya bergetar. Dia bingung. Kemarin dipuji setinggi langit, hari ini dicaci maki seolah sampah. Dia merasa bersalah….

Berani Menolak
Narasi  

Berani Menolak

Saya pernah bertemu seorang pejabat tinggi. Orangnya santun. Pintar sekali. Gelarnya berderet. Kalau bicara, teorinya setinggi langit. Tapi sayang. Dia tidak punya satu hal yang…

Pahlawan Palsu
Narasi  

Pahlawan Palsu

Saya baru saja duduk. Menikmati kopi malam ini. Di sebuah kedai kecil. Di sudut kota yang tidak terlalu ramai. Tiba-tiba ada keributan. Kecil saja. Seorang…

Jualan Nama Pahlawan
Narasi  

Jualan Nama Pahlawan

Saya sedang merenung. Menatap sebuah gedung tua. Di depannya ada patung. Sosok pahlawan. Gagah perkasa. Pahlawan itu pejuang. Beliau mengorbankan nyawa. Tanpa pamrih. Tanpa hitung-hitungan…

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.