Lokapalanews.id | Langkah Pemerintah Provinsi Bali melakukan ritual penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung memicu kekhawatiran munculnya krisis sampah masif di wilayah Denpasar dan Badung. Tokoh masyarakat, I Gusti Putu Artha, memperingatkan bahwa prosesi ritual ini dinilai mendahului arahan resmi pmerintah pusat melalui Menteri Lingkungan Hidup dan berpotensi memicu konflik sosial di lapangan.
I Gusti Putu Artha seperti dilansir dari akun Facebook-nya menyoroti bahwa penutupan yang direncanakan pada 23 Desember mendatang mengancam nasib lebih dari 800 ton sampah asal Denpasar dan 270 ton sampah dari Badung setiap harinya. Tanpa adanya jalur transisi yang jelas selama proses Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), ia menilai akumulasi limbah ini akan menjadi “bom sampah” nyata yang merusak citra pariwisata Bali.
Ketidakpastian ini juga memicu keresahan di kalangan jasa swakelola sampah. Putu Artha menyebut kelompok ini telah mengancam akan turun ke jalan jika tidak ada solusi konkret, yang dapat berujung pada aksi pembuangan sampah di kantor-kantor pemerintahan sebagai bentuk protes.
Potensi Gejolak Sosial dan Penurunan Wisatawan
Ritual penutupan saat keputusan pusat belum turun dianggap Putu Artha sebagai stimulus bagi warga sekitar TPA untuk memblokade akses truk sampah. Dinamika ini dikhawatirkan akan memicu kegaduhan yang viral ke tingkat global. Jika Pemprov Bali tidak segera melakukan kalkulasi matang, ia memprediksi tingkat kunjungan wisatawan ke Bali akan turun drastis pada tahun 2026. *R101






