--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Bukan Sekadar Penonton

Anggota BURT DPR RI Tutik Kusuma Wardhani.

Lokapalanews.id | Saya teringat obrolan di sebuah kedai kopi di Singaraja beberapa waktu lalu. Seorang anak muda, mahasiswa semester akhir, bicara dengan nada skeptis. “Politik itu kotor, Bli. Mending fokus cari kerja saja,” katanya. Pandangan ini bukan hal baru. Di mata banyak mahasiswa, politik sering dianggap seperti lumpur yang harus dihindari agar baju putih mereka tak ternoda.

Namun, hari ini, ada pesan yang berbeda. Tutik Kusuma Wardhani, anggota BURT DPR RI, berdiri di depan mahasiswa Universitas Ganesha (Undiksha) Bali. Ia tidak sedang memberi kuliah teori. Ia sedang menantang mereka. Menantang para pemuda Bali itu untuk berani masuk ke “gelanggang”. Bukan sebagai tim hore, tapi sebagai pemain utama.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya melihat ini sebagai ajakan yang jujur. Kita sering mengeluh soal kebijakan yang tidak berpihak. Kita menggerutu di media sosial soal jalan rusak atau biaya pendidikan yang melambung. Tapi, saat diajak duduk di meja pengambilan keputusan, banyak dari kita yang mundur teratur. Kita memilih menjadi penonton yang cerewet daripada pemain yang berkeringat.

Bu Tutik benar soal satu hal. Politik jangan dipandang sebagai instrumen perebutan kekuasaan semata. Jika politik hanya soal kursi, maka yang lahir adalah pragmatisme. Tapi jika politik dipandang sebagai jalan pengabdian, maka yang lahir adalah kebijakan yang bernyawa. Masalahnya, siapa yang akan membawa nyawa itu jika bukan mahasiswa?

Mahasiswa punya modal yang tidak dimiliki politisi senior: kejernihan berpikir. Mereka belum tersandera oleh kepentingan bisnis atau janji-janji politik di masa lalu. Pikiran mereka masih progresif. Mereka melihat masalah dengan mata yang lebih segar. Jika energi ini hanya disimpan di ruang kelas, maka Indonesia Emas 2045 hanya akan jadi slogan di baliho pinggir jalan.

Ia menyarankan untuk mulai dari yang kecil. Musyawarah desa atau organisasi kampus. Ini poin penting. Banyak anak muda ingin langsung jadi menteri tanpa tahu rasanya duduk di balai desa. Padahal, politik yang paling nyata ada di tingkat tapak. Di sana, mereka bisa mendengar langsung keluhan rakyat. Mereka bisa belajar bahwa kebijakan bukan sekadar deretan angka di atas kertas.

Baca juga:  Catatan Paradoks Wayan Suyadnya

Saya memahami ketakutan mereka. Dunia politik memang penuh intrik. Tapi, jika orang-orang baik dan jujur tetap memilih apolitis, maka gelanggang itu akan terus diisi oleh mereka yang hanya peduli pada kantong pribadi. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan jika kita sendiri tidak mau memegang kendali.

Generasi muda Bali punya sejarah panjang dalam kepemimpinan. Semangat itu seharusnya tidak padam di era digital ini. Jangan sampai mahasiswa hanya menjadi objek suara setiap lima tahun sekali. Mereka harus menjadi subjek. Mereka harus menjadi pihak yang menentukan ke mana arah kemudi bangsa ini akan diputar.

Partisipasi politik adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Jika anak muda memilih diam, maka mereka sedang mengizinkan orang lain untuk menulis masa depan mereka. Dan biasanya, tulisan orang lain tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Kunjungan mahasiswa Undiksha ke Senayan ini harusnya bukan sekadar wisata birokrasi. Foto-foto di depan gedung kura-kura itu jangan hanya berakhir di unggahan media sosial. Pesan Bu Tutik adalah sebuah “alarm” bangun tidur. Saatnya mahasiswa Bali pulang membawa kesadaran baru. Bahwa politik adalah tanggung jawab sejarah yang harus dipikul sekarang juga.

Masa depan bangsa ini memang bergantung pada cara pandang anak mudanya. Apakah mereka akan tetap menjadi pengamat yang sinis di pinggir lapangan? Ataukah mereka berani mengikat tali sepatu dan berlari masuk ke dalam arena? Gelanggang sudah dibuka, dan kursi-kursi keputusan itu sedang menunggu pemilik barunya yang lebih bersih dan idealis. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."