Lokapalanews.id | Matahari baru saja naik sepenggalah ketika langit Klungkung tak lagi biru. Kepulauan asap hitam membumbung dari kejauhan, membawa aroma mesiu yang tajam dan debu tanah yang kering. Di dalam Puri Agung Semarapura, suasana tak lagi bising oleh diskusi birokrasi atau tawa para abdi. Yang terdengar hanyalah gesekan kain wastra, gemerincing keris yang dihunus, dan doa-doa pendek yang dirapal dengan nada rendah. Angin pagi yang biasanya membawa kesejukan dari pesisir Kusamba, hari itu terasa berat, seolah memikul beban sejarah yang sebentar lagi akan tumpah menjadi genangan merah di atas bumi Klungkung.
Ini bukan sekadar hari biasa di tahun 1908. Ini adalah hari di mana waktu seolah berhenti berdetak bagi sebuah dinasti. Di tengah pelataran, berdiri Ida Dewa Agung Jambe. Sosoknya tenang, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan. Di sekelilingnya, keluarga kerajaan dan rakyat jelata berkumpul dalam satu barisan yang sama. Tidak ada lagi kasta yang membedakan saat maut sudah di ambang pintu; yang ada hanyalah satu tekad: puputan. Bertempur hingga habis, hingga titik darah terakhir, demi sebuah harga diri yang tak bisa dibeli dengan konsesi kolonial.
Bagi masyarakat modern yang kini melintasi jalanan aspal di sekitar Monumen Puputan Klungkung, mungkin sulit membayangkan bahwa di tanah yang sama, pernah terjadi sebuah drama kolosal tentang kesetiaan. Kita hidup di zaman di mana kompromi adalah mata uang utama, namun bagi Dewa Agung Jambe, ada hal-hal yang melampaui logika bertahan hidup. Peristiwa 28 April 1908 itu adalah puncak dari gunung es ketegangan yang sudah membeku selama puluhan tahun antara penguasa Bali dan nafsu ekspansi Belanda.
Benang merah perjuangan ini sebenarnya telah dipintal jauh sebelumnya di pesisir Kusamba. Jika kita memutar kembali ingatan ke pertengahan abad ke-19, Kusamba adalah pelabuhan yang hidup, jantung ekonomi sekaligus benteng pertahanan kedua bagi Kerajaan Klungkung. Di sana, seorang perempuan perkasa, Ida I Dewa Agung Istri Kanya, pernah membuat nyali kompeni ciut. Tragedi bermula dari hukum Tawan Karang, sebuah kedaulatan laut yang dianggap Belanda sebagai legalitas perompakan. Kapal-kapal milik agen Belanda, GP King, yang kandas di Pesinggahan menjadi pemantik api yang membakar hubungan diplomatik.
Belanda, yang masih terluka harga dirinya setelah perang di Buleleng, mengirimkan ekspedisi besar di bawah komando Jenderal A.V. Michels. Namun, di bawah rembulan tanggal 25 Mei 1849, sebuah keajaiban militer terjadi. Dalam gelap yang pekat, hanya diterangi lampu minyak yang temaram dan peluru cahaya yang justru menjadi bumerang, laskar Klungkung merangsek masuk ke jantung perkemahan Belanda di Puri Kusamba. Sebuah tembakan meriam canon memutus kaki sang jenderal. Michels, sang penakluk tujuh daerah, terjungkal dan tewas dalam kehinaan di tangan laskar yang mereka anggap tradisional.
Namun, sejarah bukanlah garis lurus menuju kemenangan. Kemenangan di Kusamba hanyalah jeda sebelum badai yang lebih besar datang. Belanda tidak pernah lupa, dan mereka tidak pernah memaafkan kekalahan. Puluhan tahun setelah kematian Michels, tuntutan demi tuntutan terus menekan Klungkung. Hingga akhirnya, Ida Dewa Agung Jambe sampai pada satu titik di mana kata-kata tak lagi berguna.
Mengenakan pakaian serba putih, simbol kesucian dan kesiapan menghadap Sang Pencipta, sang raja melangkah keluar puri. Di tangannya, keris pusaka terhunus. Di belakangnya, anak-anak kecil, perempuan, dan para lelaki mengikuti dengan langkah mantap. Tidak ada teriakan ketakutan. Yang ada hanyalah pekik “Puputan!” yang membelah sunyi Semarapura.
Senjata api Belanda mulai menyalak. Suaranya memecah keheningan pagi, menggantikan bunyi lonceng pura yang biasanya mendayu. Satu per satu, tubuh-tubuh berbaju putih itu tumbang bersimbah darah. Ida Dewa Agung Jambe jatuh, menyusul para leluhurnya yang telah membangun dinasti ini sejak keruntuhan Gelgel. Baginya, lebih baik menjadi abu yang suci daripada menjadi budak di tanah sendiri. Ia bukan sekadar penguasa yang mempertahankan takhta, ia adalah simbol dari sebuah perlawanan kultural terhadap upaya penyeragaman paksa oleh kolonialisme.
Penetapan Ida Dewa Agung Jambe sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2023 silam sesungguhnya hanyalah sebuah pengakuan administratif atas apa yang sudah lama terpatri dalam ingatan kolektif rakyat Bali. Monumen setinggi 28 meter di pusat Kota Semarapura hari ini berdiri bukan untuk merayakan kematian, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari sekadar hidup panjang: yakni martabat.
Saat kita berdiri di depan monumen batu hitam itu, di tengah hiruk pikuk pasar tradisional dan deru mesin kendaraan, kita sedang menginjak jejak-jejak keberanian yang tak padam oleh waktu. Sejarah Klungkung adalah narasi tentang bagaimana sebuah bangsa kecil menolak untuk tunduk, meski mereka tahu akhir ceritanya adalah kehancuran fisik.
Waktu mungkin telah menghapus bercak darah di tanah Semarapura, dan bangunan puri yang hancur kini telah berganti wajah. Namun, spirit puputan tetap menjadi cermin bagi kita hari ini. Di dunia yang terus berubah, di mana identitas seringkali luntur tertiup angin globalisasi, kisah Ida Dewa Agung Jambe mengingatkan bahwa manusia tanpa prinsip hanyalah raga yang kosong. Sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu untuk diingat kembali, agar kita tak kehilangan arah di masa depan. *yas






