--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Ular yang Sesungguhnya

Lokapalanews.id | Saya baru saja merenung. Tentang sebuah tuduhan yang aneh.

Ada seseorang yang menuduh orang lain sebagai ular. Ular yang kelaparan, katanya.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Logikanya begini: kalau ular itu tidak diberi makan, dia akan menggigit. Dia dianggap tak pernah puas.

Saya tersenyum getir mendengarnya. Tuduhan itu terdengar sangat meyakinkan.

Tapi tunggu dulu. Saya jadi teringat obrolan di sebuah warung kopi tempo hari.

Waktu itu ada kawan bercerita tentang teknik memancing. Dia bilang, ikan sering mati bukan karena lapar.

Ikan mati karena tidak tahu mana makanan, mana kail. Sama seperti hubungan manusia.

Seringkali, orang yang menuduh orang lain “ular” justru sedang memegang bisanya sendiri. Dia sedang melakukan proyeksi.

Dia melempar sifat buruknya ke wajah orang lain. Agar wajahnya sendiri tetap terlihat bersih.

Padahal, dialah ular yang sesungguhnya. Diam-diam menggigit.

Gigitannya mematikan. Bukan karena bisanya yang panas, tapi karena caranya yang halus.

Dia melakukan berbagai cara untuk menghancurkan. Sambil tetap berakting sebagai korban.

Itulah puncak dari sebuah hubungan yang toksik. Manipulasi yang dibungkus dengan narasi kebenaran.

Saya merasa beruntung. Tuhan akhirnya membuka mata saya.

Tuhan menjauhkan saya dari orang seperti itu. Mungkin itu cara Tuhan menyelamatkan sisa kewarasan saya.

Berada di dekat “ular” seperti itu sangat melelahkan. Kita harus terus membuktikan bahwa kita bukan ular.

Padahal, kita hanya manusia biasa yang ingin dihargai. Bukan dijadikan sasaran pelampiasan sifat buruk orang lain.

Kini saya bebas. Tidak ada lagi beban untuk menyenangkan orang yang tak pernah puas.

Tidak ada lagi ketakutan akan digigit dari belakang. Hidup terasa lebih ringan.

Baca juga:  Menjemput Fajar 2026 dalam Hening Doa dan Uluran Tangan

Ternyata, musibah terbesar bukan saat kita kehilangan teman. Tapi saat kita kehilangan diri sendiri karena mencoba bertahan dengan orang yang salah.

Pelajaran besarnya sederhana. Jangan takut disebut ular oleh seseorang yang sedang menyembunyikan bisanya.

Biarkan waktu yang membuktikan siapa yang benar-benar melata. Dan siapa yang benar-benar tulus berjalan tegak.

Sekarang, saya hanya ingin fokus pada langkah ke depan. Tanpa perlu menoleh ke belakang lagi.

Dunia ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan memikirkan racun orang lain. Bukankah begitu? *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."