--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Tikaman Kawan Sendiri

Sosok pria yang menatap jendela dengan bayangan gelap yang kontras di dinding.

Lokapalanews.id | Siang itu panas. Tapi hati teman saya jauh lebih mendidih. Ia seorang pejabat. Sukses. Punya pengaruh besar.

Kami bertemu di sebuah warung makan. Awalnya obrolan mengalir biasa. Soal hobi. Soal keluarga.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Lalu nadanya berubah. Rendah. Getirnya menembus meja. Ia baru saja “dilengserkan”. Kehilangan jabatan yang ia bangun dengan peluh.

Tapi bukan kursi itu yang membuatnya sesak napas. Ia bercerita soal pengkhianatan. Sebuah kata yang sangat purba.

“Saya tidak diserang lawan,” katanya pelan. Matanya menatap kosong ke cangkir kopi yang masih penuh.

“Saya dijatuhkan oleh orang yang saya anggap teman.”

Kalimat itu pendek. Tapi dalamnya minta ampun. Ia lalu berkisah. Tentang seorang sahabat lama yang pernah terpuruk.

Dulu, sahabatnya itu sedang di bawah. Susah. Tak punya arah. Teman saya ini yang mengulurkan tangan. Memberi panggung.

Ia tarik sahabatnya itu ke dunia politik. Ia bukakan jalan setapak demi setapak.

Sampai akhirnya si sahabat mendapat posisi. Punya kuasa sendiri.

Ternyata, kuasa itu dipakai untuk merobohkan sang penolong. Rahasia yang dulu diceritakan dengan penuh kepercayaan, dibuka lebar.

Dijadikan peluru. Dipelintir menjadi senjata untuk melucuti jabatannya. Saya mendengarkan sambil menghela napas panjang.

Kejadian ini seperti menghidupkan kembali sosok Sengkuni ke dunia nyata.

Kita tahu siapa Sengkuni dalam jagat pewayangan. Ia bukan raksasa yang mengandalkan otot. Bukan ksatria yang pamer kesaktian.

Sengkuni itu licik. Cerdik yang disalahgunakan secara sistematis. Ia tidak menyerang dari depan. Tidak menantang duel di lapangan terbuka.

Ia mengatur dari belakang. Dari balik tirai-tirai kekuasaan. Kerjanya mengumpulkan informasi. Menunggu saat yang paling rapuh.

Lalu, sekali tebas, lawan langsung tumbang tanpa tahu siapa yang memegang pedang.

Sengkuni modern itu berbahaya justru karena ia tampak paling dekat. Ia duduk di sebelah kita. Tertawa paling keras atas lelucon kita. Mungkin ia juga yang paling rajin memuji langkah-langkah kita.

Inilah yang disebut luka yang tidak terlihat, tapi sangat dalam. Luka fisik bisa sembuh dalam hitungan hari.

Luka jabatan? Bisa dicari lagi di periode atau panggung mendatang. Tapi luka kepercayaan? Itu soal eksistensi diri.

Kepercayaan itu seperti kaca kristal. Sekali pecah, takkan bisa kembali utuh. Dilem sekuat apa pun, retakannya akan tetap berteriak.

Baca juga:  Lapor, Pecat, dan Polisi

Dari cerita teman saya itu, saya merenung cukup dalam. Ada pelajaran pahit yang harus kita telan mentah-mentah. Bahwa kedekatan tidak selalu berbanding lurus dengan keamanan. Terkadang, jarak justru menjadi pelindung terbaik bagi martabat kita.

Bukan berarti kita harus jadi paranoid. Bukan harus mencurigai setiap jabat tangan. Tapi kita harus tetap bijak. Menjaga batas itu adalah bentuk harga diri.

Dalam persahabatan sekalipun, ada ruang gelap yang harus tetap privat. Dunia politik memang keras. Kita semua sudah paham hukum rimba itu.

Tapi melihat pengkhianatan dari “orang rumah” sendiri tetap saja memuakkan. Itulah realita yang sering kita lupakan karena terlalu nyaman. Bahwa orang yang paling tahu kelemahan kita adalah orang yang paling sering kita peluk. Jika niatnya berubah jadi jahat, merekalah algojo yang paling mematikan.

Teman saya sekarang sudah tidak menjabat lagi. Ia mencoba berdamai dengan keadaan. Mencoba belajar memaafkan. Meskipun saya tahu, bayang-bayang pengkhianatan itu akan menghantui tidurnya.

Sengkuni akan selalu ada di setiap zaman, di setiap rezim. Ia hanya berganti baju. Berganti merek parfum. Berganti gaya bicara.

Tapi polanya tetap sama: masuk lewat pintu kepercayaan, keluar lewat pintu pengkhianatan.

Kita mungkin tidak bisa menyapu bersih kehadiran para Sengkuni ini. Dunia ini panggung yang luas. Semua peran hitam-putih tersedia di sana. Yang bisa kita lakukan hanya satu: memperkuat benteng integritas diri.

Jangan terlalu silau dengan puja-puji. Jangan terlalu telanjang dengan semua rahasia. Simpan sedikit ruang untuk diri sendiri. Sebagai cadangan oksigen jika dikhianati.

Sebab, di akhir hari, yang paling menyakitkan bukan ditikam oleh musuh bebuyutan. Tapi disikut jatuh oleh kawan yang pernah kita beri makan.

Siang itu, kopi saya sudah dingin. Begitu juga suasana batin di meja kami. Teman saya pamit. Langkahnya masih tegap, tapi punggungnya terlihat begitu lelah.

Lelah bukan karena beban kerja yang menumpuk. Tapi lelah karena beban rasa kecewa yang luar biasa berat. Semoga ia cepat pulih. Dan semoga kita semua tetap waspada. Tanpa perlu kehilangan nyawa kemanusiaan kita di tengah rimba kepentingan. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."