Lokapalanews.id | Denpasar – Dunia pendidikan tinggi di Bali berduka sedalam-dalamnya. Tokoh akademisi sekaligus cendekiawan progresif, Prof. Ir. Gede Sri Darma, S.T., M.M., D.B.A., menghembuskan napas terakhir pada Minggu (1/3/2026) pukul 05.08 Wita di RS Ngoerah, Denpasar. Mantan Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) tiga periode ini berpulang tepat saat putri semata wayangnya menuntaskan studi di Fakultas Kedokteran.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga dan kolega dekat di lingkungan Undiknas. Prof. Sri Darma yang juga menjabat sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana (Undiknas Graduate School) berpulang setelah menjalani perawatan intensif selama dua pekan akibat komplikasi penyakit. Kepergiannya meninggalkan jejak prestasi fenomenal, termasuk catatan sejarah sebagai Rektor dan Profesor termuda di Indonesia pada masanya.
Istri almarhum, Devy Pramesti, menuturkan sebuah kisah menyentuh sesaat sebelum sang suami berpulang. Prof. Sri Darma diketahui sangat menanti momen wisuda putrinya, Shrisya Elvara, yang dijadwalkan pada 28 Februari 2026. Meski dalam kondisi kritis di ruang ICU, almarhum sempat berfoto bersama sang putri yang mengenakan toga wisuda tepat satu hari sebelum ia menutup mata untuk selamanya.
“Bapak sepertinya menanti Vara wisuda dulu baru beliau berpulang. Beliau sangat bahagia bisa melihat putrinya mengenakan toga, meski harapan untuk berfoto bersama mengenakan toga masing-masing di studio tidak sempat terwujud,” ujar Devy dengan nada lirih di rumah duka, Minggu siang.
Lahir di Denpasar pada 18 Februari 1969, perjalanan akademik Prof. Sri Darma merupakan representasi kecemerlangan intelektual. Setelah menamatkan pendidikan S1 Teknik Elektro di Universitas Udayana pada 1993 dan S2 Manajemen di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1995, ia meraih gelar Doktor (S3) dari Southern Cross University, Australia, pada 1999 dalam usia yang masih sangat muda.
Puncak kariernya tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Pada 23 Februari 2005, ia dilantik menjadi Rektor Undiknas pada usia 36 tahun, menjadikannya rektor termuda di Indonesia. Setahun berselang, per 1 Juni 2006, ia dikukuhkan sebagai Profesor dalam bidang ilmu manajemen strategi pada usia 37 tahun, yang kembali memecahkan rekor sebagai profesor termuda. Piagam MURI tersebut diserahkan secara resmi di Denpasar pada 15 April 2008.
Selama memimpin Undiknas sejak 2005 hingga 2019, Prof. Sri Darma dikenal sebagai arsitek modernisasi kampus. Selain di dunia akademik, kontribusi Prof. Sri Darma meluas hingga ke sektor ekonomi dan sosial. Ia aktif dalam pengembangan UMKM di Bali serta menjabat di berbagai posisi strategis, seperti Koordinator Forum Profesor LLDikti Wilayah VIII dan Ketua Aptisi Wilayah VIII-A Bali. Di luar tugas formal, ia juga merupakan tokoh yang aktif dalam organisasi pasemetonan Warga Pande Provinsi Bali.
Ketua Perdiknas, Dr. Anak Agung Ayu Tini Rusmini Gorda, menyatakan kehilangan besar atas berpulangnya sang profesor. Menurutnya, Prof. Sri Darma adalah ahli waris spirit dwi tunggal pendiri Undiknas, yakni Prof. Dr. I Gusti Ngurah Gorda dan Drs. K. Sambereg. Semangat kerja keras dan keterbukaan pemikiran almarhum dinilai menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan institusi di bawah naungan Perdiknas.
Berdasarkan keputusan keluarga, jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka, Batanghari House, Jalan Tukad Batanghari VII No. 8A, Panjer, Denpasar. Rangkaian prosesi adat akan dimulai dengan upacara ngulapin pada Rabu (4/3/2026) pagi di Pura Dalem Gunaksa.
Puncak prosesi pengabenan dijadwalkan berlangsung pada Kamis (5/3/2026). Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka menuju Krematorium Shanta Yana di Cekomaria, Denpasar Utara, pada pukul 06.00 Wita. Kepergian sang profesor tidak hanya menjadi duka bagi keluarga besar Undiknas, tetapi juga bagi dunia pendidikan nasional yang kehilangan salah satu putra terbaiknya. *R104






