--- / --- 00:00 WITA

Mengapa Untung Surapati Adalah ‘Influencer’ Perlawanan Sejati?

Untung Surapati lahir

Lokapalanews.id | Bayangkan hidup Anda sudah ditentukan oleh label sejak lahir. Bukan label “mahasiswa”, “content creator“, atau “Gen-Z”, melainkan label “milik orang lain”. Di usia yang baru belasan tahun – seusia Anda yang mungkin sedang disibukkan oleh tugas kuliah atau scrolling media sosial – seorang pemuda bernama Untung sudah merasakan dinginnya rantai perbudakan. Ia dijual dari satu tangan ke tangan lain, berpindah dari kehangatan tanah Bali ke pengapnya Batavia kolonial.

Namun, sejarah membuktikan satu hal: Anda bisa merantai kaki seseorang, tapi Anda tidak akan pernah bisa membelenggu jiwanya. Untung bukan sekadar nama; ia adalah simbol bagaimana sebuah “objek” bisa bangkit menjadi “subjek” yang membuat gemetar sebuah imperium sebesar VOC.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Dari Pecundang Menjadi Pemenang

Berdasarkan catatan sejarah, Untung Surapati lahir di Bali dan dibawa ke Batavia sebagai budak. Nama “Untung” konon diberikan karena siapa pun yang memilikinya selalu merasa beruntung. Tapi keberuntungan yang sebenarnya bukan milik para tuannya, melainkan milik bangsa ini.

Titik balik hidupnya terjadi saat ia jatuh cinta dengan putri tuannya, sebuah tindakan “pemberontakan” hati yang berujung pada penjara. Di dalam sel yang gelap itulah, api di dadanya menyala. Ia tidak hanya melarikan diri; ia membangun pasukan. Ia mengubah sekumpulan orang-orang yang terpinggirkan menjadi kekuatan militer yang ditakuti. Puncaknya adalah saat ia berhasil menumbangkan Kapten Tack, perwira elite Belanda, dalam sebuah pertempuran legendaris di Kartasura.

Melawan ‘Perbudakan’ Modern

Mungkin Anda bertanya, apa hubungannya kisah ini dengan kehidupan modern? Kita tidak lagi hidup di zaman kompeni. Tapi coba lihat sekeliling Anda. Apakah kita benar-benar merdeka, atau kita sedang menjadi “budak” dalam bentuk lain?

Kita sering diperbudak oleh opini orang lain, ditekan oleh algoritma yang menuntut kita tampil sempurna, atau terjebak dalam rasa apatis yang membuat kita enggan peduli pada isu sosial. Untung Surapati mengajarkan kita tentang self-worth (harga diri). Ia menolak didefinisikan oleh status sosialnya. Ia membuktikan bahwa asal-usul Anda – apakah Anda anak desa, anak kota, atau dari keluarga sederhana – tidak menentukan seberapa jauh Anda bisa melangkah.

Baca juga:  Menjemput Api Perjuangan Sang Wanita Besi dari Klungkung

Nilai yang bisa Anda petik adalah keberanian untuk berkata “tidak” pada ketidakadilan. Untung bisa saja memilih hidup nyaman sebagai tentara bayaran Belanda, tapi ia memilih jalan yang berisiko demi sebuah prinsip. Di era sekarang, prinsip adalah barang mewah. Berani jujur saat yang lain curang, atau berani menyuarakan kebenaran saat yang lain diam, adalah bentuk “perlawanan” ala Surapati di masa kini.

Warisan Sang Pemberontak

Pertanyaannya untuk Anda sekarang: Apa yang akan Anda lakukan dengan kebebasan yang sudah mereka tebus dengan harga yang sangat mahal? Apakah Anda hanya akan menjadi generasi yang sekadar menonton perubahan, atau Anda berani mengambil tanggung jawab untuk menciptakannya?

Untung Surapati gugur di Bangil dalam pertempuran sengit melawan Belanda, tapi ia mati sebagai orang merdeka, bukan sebagai budak. Ia meninggalkan pesan bisu bahwa perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah keberanian seorang anak muda.

Menjadi Pahlawan di Zaman Sendiri

Menjadi pahlawan hari ini tidak harus dengan mengangkat senjata. Anda menjadi pahlawan saat Anda menggunakan bakat Anda untuk membantu orang lain. Anda menjadi pahlawan saat Anda tidak membiarkan informasi palsu memecah belah bangsa. Anda menjadi pahlawan saat Anda bangga dengan identitas Anda sendiri di tengah gempuran budaya luar.

Mari kita warisi nyali Surapati. Jangan mau dijinakkan oleh keadaan. Jika seorang budak dari abad ke-17 saja bisa mengguncang dunia, bayangkan apa yang bisa Anda lakukan dengan semua teknologi dan akses yang Anda miliki sekarang.

Jadilah “Untung-Untung” baru yang membawa keberuntungan bagi masa depan Indonesia. Jangan cuma jadi penonton sejarah, jadilah penulisnya. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."