--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Lupa Darah Bali

Lokapalanews.id | Saya baru saja mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai. Bandara itu megah. Arsitekturnya indah. Patung besarnya gagah. Tapi ada yang mengganjal di hati saya. Tiap kali ke Bali, nama itu saja yang disebut. I Gusti Ngurah Rai. Tentu beliau pahlawan besar. Tapi Bali bukan hanya Ngurah Rai.

Bali itu luas. Sejarahnya panjang. Pengorbanannya kolosal. Ribuan orang mati demi harga diri. Tapi anak muda sekarang seolah hanya kenal satu nama. Selebihnya? Mungkin dianggap figuran. Atau malah sudah lupa sama sekali.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya sering bicara dengan anak muda. Di kafe. Di kampus. Di pinggir jalan. Mereka tahu sejarah dari media sosial. Masalahnya, algoritma tidak peduli sejarah. Algoritma hanya peduli yang viral. Yang tidak viral akan tenggelam. Pahlawan yang tidak masuk buku teks akan hilang. Ini berbahaya. Bangsa yang amnesia sejarah akan kehilangan kompas.

Kita harus jujur. Sejarah kita sering kali disederhanakan. Dibuat menjadi narasi tunggal. Supaya gampang dihafal anak sekolah. Padahal sejarah itu kompleks. Penuh intrik. Penuh dinamika. Di Bali, perlawanan itu kolektif. Ada Puputan Badung. Ada Puputan Klungkung. Ada Buleleng. Semua punya tokohnya sendiri. Semua punya nyali yang sama besarnya.

Coba Anda tanya anak milenial di Denpasar. Siapa I Gusti Ketut Jelantik? Mungkin ada yang garuk kepala. Padahal beliau adalah otak strategi perang yang luar biasa. Singa dari Buleleng. Beliau tidak hanya modal nekat. Beliau punya visi militer.

Atau tanya soal Anak Agung Made Agung. Beliau raja. Tapi beliau memilih mati dalam Puputan Badung. Itu bukan sekadar perang. Itu pernyataan sikap. Bahwa harga diri tidak bisa dibeli dengan upeti. Beliau menulis karya sastra sebelum menjemput maut. Adakah pemimpin sekarang yang seberani itu? Yang lebih memilih mati daripada tunduk pada aturan yang menjajah nurani?

Lalu ada I Dewa Agung Jambe II di Klungkung. Beliau konsisten. Tidak mau kompromi dengan dominasi kolonial. Lalu ada I Gusti Ketut Pudja. Beliau ini pahlawan administratif. Tanpa beliau, integrasi Bali ke Republik mungkin ceritanya beda. Ada juga Ida Anak Agung Gde Agung. Beliau jago diplomasi. Beliau tahu kapan harus angkat senjata, kapan harus angkat bicara di meja runding.

Mengapa kita hanya memuja satu orang? Padahal nilai kepemimpinan itu beragam. Ada yang jago di medan tempur. Ada yang jago di balik meja. Ada yang jago merangkai kata. Semua itu adalah kekayaan identitas Bali. Jika anak muda hanya kenal satu, mereka akan kehilangan spektrum keberanian yang luas itu.

Masalahnya sekarang, sejarah sering dipelintir. Tergantung siapa yang pegang pena. Atau siapa yang punya kepentingan politik. Sejarah sering dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Tokoh tertentu dibesarkan. Tokoh lain dikecilkan. Peran kolektif dihilangkan. Seolah-olah kemerdekaan itu hadiah dari satu-dua orang saja.

Dulu, penjajah menulis sejarah kita sesuai sudut pandang mereka. Sekarang, kita sendiri yang sering memangkas sejarah kita. Demi kepraktisan kurikulum. Atau demi menonjolkan satu klan tertentu. Ini menyedihkan. Sejarah itu harusnya jadi cermin. Bukan jadi alat poles wajah.

Baca juga:  Lapor, Pecat, dan Polisi

Saya melihat ada tren yang mengkhawatirkan. Budaya kritik sumber kita rendah. Apa yang tertulis di buku paket, dianggap kebenaran mutlak. Padahal, kita harus bisa membedakan mana arsip primer, mana catatan kolonial, dan mana narasi lisan yang sudah ditambah-tambah bumbunya.

Anak muda harus diajari kritis. Jangan telan mentah-mentah. Baca lebih dari satu buku. Bandingkan versi Belanda dengan versi lokal. Lihat apa yang tertulis di daun lontar. Rasakan getaran di lokasi kejadian. Sejarah itu hidup. Ia bukan benda mati di museum.

Spirit Puputan, misalnya. Itu bukan sekadar aksi bunuh diri masal. Itu adalah puncak dari integritas. Loyalitas pada kebenaran. Kesediaan berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Nilai ini yang harusnya diajarkan. Bukan sekadar menghafal tanggal kejadiannya.

Bayangkan jika kampus-kampus di Bali membuat diskusi hebat. Judulnya: “Spirit Puputan dalam Kepemimpinan Modern”. Itu baru keren. Menghubungkan masa lalu dengan tantangan masa depan. Bagaimana nilai-nilai pahlawan dulu bisa dipakai untuk melawan korupsi sekarang. Bagaimana keberanian moral pahlawan dulu bisa dipakai untuk menjaga lingkungan Bali dari eksploitasi.

Kita butuh narasi sejarah yang hidup. Yang bahasanya kekinian. Gunakan video pendek. Gunakan podcast. Ceritakan sisi manusiawi pahlawan tersebut. Bahwa mereka juga punya rasa takut, tapi mereka berhasil mengalahkannya. Itu jauh lebih menginspirasi daripada sekadar gambar kaku di dinding kelas.

Saya selalu optimis dengan inovasi. Tapi saya skeptis dengan birokrasi pendidikan kita. Seringkali mereka terjebak pada formalitas. Yang penting ujian nasional lulus. Soal karakter, soal pemahaman sejarah yang mendalam, itu urusan belakangan. Padahal karakter itu akarnya di sejarah.

Sejarah yang benar akan menghasilkan generasi yang punya harga diri. Generasi yang tidak gampang disetir. Generasi yang tahu siapa leluhur mereka dan apa yang mereka perjuangkan.

Bali adalah laboratorium sejarah yang luar biasa. Jangan biarkan laboratorium itu berdebu. Jangan biarkan anak cucu kita merasa asing di tanahnya sendiri. Hanya karena mereka tidak tahu bahwa di bawah kaki mereka, pernah tertumpah darah pahlawan yang namanya bahkan tidak pernah mereka dengar.

Bangsa yang besar bukan hanya mengenal satu pahlawan. Bangsa yang besar adalah yang memahami perjuangan kolektif rakyatnya. Dari yang berpangkat jenderal sampai rakyat jelata yang hanya membawa bambu runcing.

Sudah saatnya kita membuka kembali lembaran-lembaran yang sempat terabaikan itu. Jangan sampai kita hanya bangga pada pariwisatanya, tapi lupa pada darah yang pernah membasahinya.

Anda setuju? Atau Anda merasa satu nama saja sudah cukup? Saya rasa, kita berhutang penjelasan pada sejarah. Agar ia tidak terus-menerus dipelintir oleh kepentingan sesaat.

Sejarah adalah guru kehidupan. Tapi guru yang baik adalah guru yang jujur. Bukan guru yang hanya menceritakan apa yang ingin kita dengar. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."