Lokapalanews.id | Di balik rimbunnya pohon cengkih di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, NTT, udara sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Tak ada lagi tawa bocah yang berlarian di tanah merah. Yang tersisa hanyalah keheningan yang menyayat di sebuah pondok bambu reyot, tempat seorang anak kecil berinisial YBS (10) menghabiskan hari-hari terakhirnya dalam kesunyian yang mencekam.
Siswa kelas IV SD itu ditemukan tak bernyawa, tergantung pada dahan pohon cengkih di belakang rumah neneknya yang sudah renta. Namun, yang lebih memilukan dari sekadar kepergiannya adalah apa yang ia tinggalkan di bawah kaki kecilnya yang menggantung: secarik kertas kumal yang menjadi saksi bisu betapa gelapnya dunia di mata seorang anak berusia sepuluh tahun.
Goresan Luka di Atas Kertas
YBS bukan sekadar statistik kemiskinan; ia adalah korban dari harapan yang patah. Tragedi ini bermula dari hal yang bagi banyak orang tampak remeh – sebuah buku tulis dan sebatang pena. Malam sebelum kejadian, ia mendatangi ibunya, MGT (47), seorang janda yang berjuang sendirian menghidupi lima anak sebagai buruh tani. Dengan suara pelan, YBS meminta alat tulis baru untuk sekolah. Namun, kemiskinan hari itu sedang sangat kejam; sang ibu hanya bisa menjawab dengan lirih bahwa ia tak punya uang sama sekali.
Kekecewaan itu rupanya tidak tumpah melalui air mata saat itu juga, melainkan melalui goresan tangan di secarik kertas dalam bahasa Bajawa. Di sana, YBS menuliskan perpisahan yang begitu dewasa sekaligus begitu rapuh. Di akhir suratnya, ia menggambar sebuah sketsa sederhana namun menyesakkan dada: sosok seorang anak yang sedang menangis.
“Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukan saya. Selamat tinggal Mama. Saya sudah pergi.”
Kutipan itu bukan sekadar kalimat pamit; itu adalah jeritan batin seorang anak yang merasa kehadirannya hanya menambah beban di punggung ibunya yang sudah bungkuk oleh kerasnya hidup. Gambar anak menangis di akhir surat itu seolah menjadi potret jiwanya yang hancur karena merasa gagal hanya karena tak mampu memiliki sebuah pena.
Luka di Jantung Pendidikan
Kejadian ini menyentak nurani publik hingga ke pusat ibu kota. Bagaimana mungkin di tengah narasi kemajuan bangsa, seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena biaya sekolah yang tak sampai seharga satu bungkus rokok? Tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga YBS di Ngada adalah potret buram dari ketimpangan yang masih nyata di pelosok negeri.
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dengan nada bergetar menyebut ini sebagai “alarm keras bagi negara”. Kasus YBS membuktikan bahwa bantuan pendidikan seringkali belum menyentuh kebutuhan paling dasar dan mendesak bagi mereka yang hidup di garis kemiskinan ekstrem.
Di pondok bambu itu, sang nenek yang berusia 80 tahun kini hanya bisa menatap kosong ke arah pohon cengkih. Ia tak pernah menyangka bahwa cucu yang ia rawat dengan segala keterbatasan akan memilih jalan sesunyi itu. Polisi yang datang ke lokasi pun tak kuasa menahan haru saat mengamankan barang bukti berupa surat dengan gambar anak menangis tersebut – sebuah simbol keputusasaan yang melampaui kata-kata.
Menangis di Pelukan Bumi
Kini, YBS telah pergi. Ia telah meletakkan beban berat yang selama ini menghimpit bahu kecilnya. Di tempat peristirahatan terakhirnya di Ngada, ia tak perlu lagi mencemaskan buku tulis yang kosong atau pena yang habis tinta. Bumi NTT kini mendekapnya dalam keabadian, meninggalkan kita semua dengan rasa bersalah yang mendalam.
Surat dengan gambar anak menangis itu kini menjadi pengingat abadi bagi siapa saja yang masih memiliki nurani. Bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi, masih ada “YBS-YBS” lain yang sedang menatap kosong ke arah masa depan, menunggu uluran tangan agar mereka tak perlu menggambar air mata di atas kertas terakhir mereka.
Selamat jalan, kecil. Semoga di surga sana, semua buku sudah terisi dengan cerita bahagia, dan penamu tak akan pernah habis untuk melukiskan senyuman, bukan lagi tangisan. *yas






