Lokapalanews.id | Jakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah bersama para tokoh adat secara resmi menetapkan malam puncak tradisi Bau Nyale 2026 jatuh pada tanggal 7-8 Februari mendatang. Keputusan tersebut diambil melalui ritual Sangkep Warige atau musyawarah adat guna menentukan waktu yang tepat munculnya cacing laut (nyale) berdasarkan penanggalan Sasak.
Tradisi tahunan ini merupakan salah satu daya tarik budaya unggulan di Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Bau Nyale kali ini akan digelar serentak di empat titik lokasi pantai berbeda. Selain Pantai Seger sebagai pusat kegiatan utama, perayaan juga akan berlangsung di Pantai Selong Belanak, Pantai Torok Aik Belek, dan kawasan Teluk Awang.
Penyebaran lokasi ini bertujuan untuk mencegah konsentrasi massa di satu titik sekaligus mendorong pemerataan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata. Guna menyemarakkan festival, Pemkab Lombok Tengah menjadwalkan Karnaval Budaya Putri Mandalika di Pantai Kuta pada Jumat, 6 Februari 2026. Selain itu, Polres Lombok Tengah turut menggelar Bhayangkara Riding Day 2026 pada Sabtu, 7 Februari 2026 sebagai sarana silaturahmi antara kepolisian dan komunitas motor.
Bau Nyale memiliki akar sejarah yang kuat dalam legenda masyarakat Sasak. Tradisi ini terinspirasi dari kisah pengorbanan Putri Mandalika yang memilih menjatuhkan diri ke laut lepas guna menghindari perpecahan antar-pangeran yang ingin mempersuntingnya. Masyarakat setempat meyakini bahwa cacing laut berwarna-warni yang muncul setahun sekali tersebut merupakan jelmaan sang putri yang membawa pesan harmoni dan kesuburan.
Rangkaian ritual biasanya dimulai dengan warga yang berkumpul di pesisir pantai sejak sore hari untuk berkemah (peresean). Prosesi inti menangkap nyale dilakukan pada dini hari hingga terbit fajar. Cacing-cacing yang berhasil dikumpulkan kemudian dimasak dan disantap bersama sebagai simbol cinta kasih serta keberuntungan. Selain ritual inti, festival ini juga diperkaya dengan berbagai atraksi kesenian lokal seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cinderamata), hingga pementasan drama kolosal Putri Mandalika.
Popularitas Bau Nyale kini tidak lagi sekadar ritual adat, melainkan telah bertransformasi menjadi magnet pariwisata internasional. Kehadiran festival ini melengkapi citra Mandalika yang sebelumnya dikenal sebagai destinasi sport tourism dunia berkat gelaran MotoGP. Sinergi antara keindahan alam, fasilitas olahraga modern, dan kekuatan tradisi lokal diharapkan mampu memperkokoh posisi NTB sebagai pusat pariwisata bahari dan budaya di Indonesia. *R106






