--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Jabatan dan Sampah

Lokapalanews.id | Saya pernah bertemu seorang pejabat. Hebat sekali. Duduknya tegak. Jalannya membusung. Kalau bicara, semua orang harus diam. Dia merasa dunia ada di genggamannya. Semua anak buah gemetar kalau dia lewat.

Lalu dia pensiun.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Satu bulan kemudian, saya bertemu dia lagi. Di sebuah acara kawinan. Dia duduk di pojok. Sendirian. Tidak ada yang mengerubutinya. Tidak ada yang minta tanda tangan. Orang-orang lewat begitu saja. Seolah dia itu transparan.

Dia kaget. Mungkin dia kecewa. Dia lupa satu hal: yang dulu orang segani itu kursinya. Bukan orangnya.

Itu kenyataan pahit. Tapi nyata.


Banyak orang mabuk jabatan. Begitu dapat SK, langsung merasa jadi raja. Lupa daratan. Lupa kalau jabatan itu ada masa kedaluwarsanya. Mirip susu kaleng. Begitu tanggalnya lewat, rasanya jadi basi. Bahkan bisa jadi racun.

Saya sering melihat manajemen yang berantakan. Sistem yang gagal. Tidak ada briefing. Tidak ada dukungan buat bawahan. Tapi si bos tetap merasa paling benar. Dia merasa tinggi karena pangkat di pundak. Padahal, tanpa sistem yang jalan, dia itu bukan siapa-siapa.

Anda mungkin sedang di atas sekarang. Anda merasa hebat. Anda bisa perintah sana-sini. Tapi ingat, jabatan itu pinjaman. Bunganya sangat mahal. Namanya: harga diri.

Kalau Anda memerintah dengan telunjuk yang tajam, nanti saat telunjuk itu sudah gemetar karena tua, tidak akan ada yang peduli. Orang patuh karena takut, bukan karena hormat. Begitu rasa takut itu hilang seiring hilangnya jabatan, yang tersisa hanya kebencian yang dipendam.

Kita sering lupa. Kita ini manusia. Bukan robot yang dibungkus seragam.

Saya perhatikan, banyak pemimpin yang gagal manajemen tapi sukses menyalahkan orang lain. Saat sistem jebol, yang disalahkan anak buah. Saat target tidak tercapai, yang disalahkan kurangnya kompetensi bawahan. Padahal, dia sendiri tidak pernah memberi arah. Tidak pernah memberi dukungan.

Itu bukan pemimpin. Itu cuma orang yang kebetulan punya kunci kantor.

Jabatan itu seperti pakaian. Bisa dilepas. Bisa robek. Bisa hilang. Saat pakaian itu lepas, apa yang terlihat? Itulah karakter Anda yang sebenarnya. Itulah reputasi Anda.

Reputasi itu dibangun dari cara Anda memperlakukan orang. Bukan dari seberapa banyak orang yang Anda suruh-suruh. Kalau Anda memperlakukan orang seperti sampah, jangan kaget kalau nanti Anda dibuang ke tempat sampah yang sama saat sudah tidak menjabat lagi.

Dunia ini berputar. Sangat cepat.

Saya punya teman. Dulu dia sopir seorang direktur. Direkturnya galak sekali. Sering memaki tanpa alasan. Si sopir cuma diam. Sabar. Akhirnya si sopir berhenti, dia nekat jualan bakso.

Sepuluh tahun kemudian, si mantan direktur kena PHK. Perusahaannya bangkrut karena manajemen yang bobrok. Dia cari kerja sana-sini tidak dapat. Suatu hari, dia makan bakso di pinggir jalan. Lapar sekali.

Baca juga:  Mosi tak Percaya, Balas Dendam yang tak Tuntas

Ternyata, pemilik gerai bakso itu adalah mantan sopirnya dulu. Si sopir sudah punya sepuluh cabang. Si mantan direktur malu bukan main. Dia ingin sembunyi di bawah meja. Tapi si pemilik bakso tetap sopan. Dia memberi makan gratis.

Di situ kita belajar. Cara kita memperlakukan orang adalah investasi jangka panjang.

Banyak orang bertanya pada saya, “Bagaimana supaya tetap dihormati setelah tidak menjabat?”

Jawabannya sederhana. Jangan jadi pejabat di depan manusia. Jadilah manusia di depan manusia. Gunakan jabatan itu untuk memudahkan urusan orang. Bukan untuk mempersulit. Gunakan untuk mendukung bawahan, bukan untuk menindas.

Briefing itu penting. Dukungan itu wajib. Manajemen yang baik itu mutlak. Kalau itu semua tidak ada, Anda bukan pemimpin. Anda cuma beban organisasi yang kebetulan punya meja besar.

Kita sering melihat orang yang gila hormat. Masuk ruangan minta disapa duluan. Keluar ruangan minta dibukakan pintu. Menurut saya, itu tanda orang yang jiwanya kerdil. Orang yang besar jiwanya tidak butuh semua seremoni itu. Dia tetap besar meski tanpa protokol.

Jabatan itu ujian karakter. Ada yang lulus, banyak yang tidak. Yang tidak lulus biasanya yang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Padahal tinggi itu cuma di kertas. Di hadapan Tuhan, kita semua sama-sama butuh makan dan butuh bernapas.

Kalau hari ini Anda masih punya jabatan, bersyukurlah. Tapi tolong, tetaplah membumi. Lihatlah ke bawah. Bukan untuk menghina, tapi untuk memastikan tidak ada orang yang tersandung karena ulah Anda.

Jangan sampai nanti, saat Anda sudah tidak punya apa-apa, orang-orang justru bersorak gembira. Itu adalah kegagalan hidup yang paling mengerikan. Lebih ngeri daripada bangkrut secara finansial.

Saya selalu percaya, hidup ini soal menanam. Kalau Anda tanam kebaikan, Anda panen rasa hormat. Kalau Anda tanam kesombongan, Anda panen kesepian. Sesederhana itu. Tidak perlu teori manajemen yang rumit dari Amerika.

Cukup perlakukan orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Itu saja.


Pada akhirnya, saat semua atribut itu hilang, yang menempel di tubuh Anda cuma nama baik. Nama baik itu tidak bisa dibeli dengan gaji tinggi. Tidak bisa didapat dari fasilitas mobil dinas.

Nama baik itu tumbuh dari setiap sapaan ramah Anda. Dari setiap bantuan yang Anda berikan tanpa pamer. Dari cara Anda membela anak buah saat mereka dalam kesulitan.

Jangan sampai Anda merasa tinggi, padahal sebenarnya Anda sedang berdiri di atas tumpukan jerami yang siap terbakar. Begitu apinya menyala, Anda jatuh ke tanah dengan keras. Dan saat itu, tidak ada satu pun tangan yang mau menangkap Anda.

Mari kita bercermin. Sudahkah kita jadi manusia yang berguna? Atau cuma jadi pejabat yang merasa berkuasa?

Hormat itu didapat, bukan diminta. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."