Lokapalanews.id | Saya pernah punya kenalan. Orangnya asyik diajak bicara. Penampilannya rapi. Gayanya meyakinkan. Tapi, lama-lama saya merasa ada yang aneh. Setiap kali ada masalah, dia tidak pernah salah. Selalu orang lain yang keliru. Kalau dia telat, itu salah macet. Kalau pekerjaannya berantakan, itu salah anak buah yang dianggapnya bodoh.
Bahkan, dia jago sekali membuat kita yang awalnya benar, malah merasa bersalah. Dia memutarbalikkan fakta dengan begitu lihainya. Istilah kerennya: playing victim.
Awalnya saya kira itu hanya sifat keras kepala biasa. Ternyata tidak. Setelah saya baca-baca, ada istilah medisnya: NPD. Singkatan dari Narcissistic Personality Disorder. Gangguan kepribadian narsistik.
NPD ini bukan sekadar narsis suka selfie. Jauh lebih dalam dari itu. Ini soal mentalitas. Ciri-cirinya jelas sekali: haus pujian, tapi tidak punya empati pada orang lain. Mereka merasa diri paling benar dan tidak pernah mau disalahkan.
Repotnya, orang dengan ciri seperti ini sangat manipulatif. Mereka akan memanfaatkan Anda demi mencapai keinginannya sendiri. Masalah kecil dibesar-besarkan kalau itu menyangkut dirinya. Tapi kalau Anda yang punya masalah? Dia akan bilang itu remeh.
Emosinya pun sering tidak terkontrol. Coba saja beri dia kritik atau masukan. Bukannya berterima kasih, dia pasti akan bereaksi negatif. Marah besar atau langsung memusuhi Anda.
Bagi kita yang normal, menghadapi orang seperti ini sangat menguras energi. Melelahkan jiwa. Kita seperti terus-menerus berjalan di atas kulit telur. Takut salah bicara. Takut dia tersinggung. Padahal, dia sendiri tidak pernah peduli pada perasaan kita.
Dunia kerja sering kali dipenuhi sosok seperti ini. Ada yang jadi bos, ada yang jadi rekan kerja. Di lingkungan sosial pun banyak.
Saran saya cuma satu: Kalau Anda bertemu orang dengan ciri-ciri lengkap seperti itu, segeralah menjauh. Jangan merasa Anda bisa mengubahnya. Jangan merasa Anda cukup kuat untuk bertahan. NPD itu penyakit kepribadian yang sulit disembuhkan tanpa bantuan profesional.
Sayangi diri Anda sendiri sebelum menjadi korban yang lebih dalam. Sebelum hati dan jiwa Anda benar-benar sakit karena ulah si raja ego ini. Hidup ini sudah cukup sulit, jangan ditambah dengan beban orang yang hanya ingin “memakan” energi Anda untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kesehatan mental Anda lebih mahal dari sekadar menjaga perasaan orang yang bahkan tidak punya perasaan pada Anda. *yas






