--- / --- 00:00 WITA

Surplus Dagang November Naik Jadi 2,66 Miliar Dolar

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan performa positif pada neraca perdagangan Indonesia periode November 2025.

Lokapalanews.id | Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan performa positif pada neraca perdagangan Indonesia periode November 2025. Berdasarkan data terbaru, surplus perdagangan nasional tercatat mencapai 2,66 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan pertumbuhan dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya, yakni Oktober 2025, yang berada di angka 2,39 miliar dolar AS.

Merespons capaian tersebut, Bank Indonesia (BI) menilai tren surplus ini merupakan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Otoritas moneter tersebut memandang bahwa penguatan ini akan memperkokoh ketahanan eksternal ekonomi Indonesia di tengah dinamika global. Ke depan, BI berkomitmen untuk terus menyelaraskan kebijakan dengan pemerintah guna menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Sektor Nonmigas Jadi Motor Utama

Peningkatan surplus pada November 2025 ini didorong kuat oleh performa gemilang di sektor nonmigas. Tercatat, neraca perdagangan nonmigas menyumbang surplus sebesar 4,64 miliar dolar AS. Solidnya angka ini ditopang oleh nilai ekspor nonmigas yang menembus 21,64 miliar dolar AS.

Beberapa komoditas berbasis sumber daya alam tercatat menjadi kontributor utama dalam mendongkrak kinerja ekspor, di antaranya:

  • Logam mulia dan perhiasan/permata.

  • Nikel dan produk turunannya.

  • Bahan bakar mineral.

Dilihat dari peta perdagangan internasional, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi negara tujuan ekspor paling utama bagi komoditas Indonesia. Ketiga negara tersebut tetap menjadi mitra dagang yang memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara.

Defisit Sektor Migas Melebar

Di sisi lain, sektor migas masih mencatatkan rapor merah dengan angka defisit yang mengalami kenaikan. Pada November 2025, defisit neraca perdagangan migas tercatat sebesar 1,98 miliar dolar AS. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya volume impor migas yang terjadi bersamaan dengan penurunan kinerja ekspor di sektor yang sama.

Meskipun terdapat tekanan di sektor migas, kuatnya ekspor nonmigas tetap mampu menjaga posisi neraca perdagangan secara keseluruhan tetap berada di zona hijau. Surplus ini diharapkan dapat memberikan bantalan yang cukup bagi nilai tukar rupiah dan memperkuat fundamental ekonomi dalam menghadapi tantangan di tahun mendatang. *R102

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."
Baca juga:  ASEAN Rumuskan Profil Pembiayaan Karbon Biru Perdana sebagai Langkah Strategis Ekonomi Biru