Lokapalanews.id | Sistem layanan ekspor-impor Indonesia mencatatkan kemajuan signifikan pada pengujung 2025. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengonfirmasi bahwa Indonesia National Single Window (INSW) telah berhasil memenuhi seluruh target tahunan dalam upaya mengintegrasikan birokrasi perdagangan internasional dan logistik nasional.
Dalam Rapat Koordinasi Dewan Pengarah INSW di Jakarta, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari harmonisasi kebijakan di 21 Kementerian/Lembaga (K/L). Sistem INSW kini menjadi pintu tunggal utama melalui prinsip single submission, single processing, dan single decision making.
“Tugas utama kami adalah menyinkronkan proses bisnis antar-instansi agar pelaku usaha tidak lagi terbebani oleh prosedur yang tumpang tindih,” ujar Susiwijono.
Sepanjang semester II-2025, sejumlah isu strategis berhasil diselesaikan, termasuk penguatan Indonesia Single Risk Management (ISRM) dan penyesuaian layanan sesuai PP Nomor 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Langkah ini memperkuat kepastian hukum bagi importir dan eksportir dalam memenuhi ketentuan larangan terbatas (lartas) dan Neraca Komoditas secara digital.
Menatap tahun 2026, pemerintah telah menetapkan lima agenda prioritas baru. Fokus utama meliputi perluasan implementasi komoditas SIMBARA, integrasi layanan e-SKA, hingga penerapan Strategic Trade Management (STM). Penerapan STM menjadi krusial karena merupakan salah satu prasyarat dalam negosiasi tarif perdagangan antara Indonesia dengan Amerika Serikat.
Pemerintah optimistis penguatan sistem INSW secara sistemik akan terus menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing investasi Indonesia di kancah global. Keberhasilan ini sekaligus membuktikan bahwa koordinasi yang solid antar-lembaga mampu memitigasi hambatan manajemen yang sering kali muncul dalam birokrasi lintas sektoral. *R102






