Lokapalanews.id | Pagi itu saya melihat seorang tetangga yang sedang marah-marah. Gara-garanya sepele: alarm mobil di seberang rumahnya berbunyi melengking di jam tiga pagi. Tetangga saya ini keluar rumah, bukannya mengecek apakah ada pencuri yang sedang mencongkel mobil itu, dia malah memaki-maki pemilik mobil karena tidurnya terganggu.
Dia lebih peduli pada suara bisingnya daripada alasan mengapa alarm itu berbunyi.
Kejadian kecil itu mendadak melintas di kepala saya saat mendengar cerita seorang kawan. Dia baru saja melaporkan atasannya. Bukan karena benci personal, tapi karena si atasan ini bertindak sewenang-wenang. Bekerja tanpa arah, tanpa briefing, apalagi dukungan. Ibarat masuk hutan tanpa peta, tapi kalau tersesat, anak buah yang digebuki.
Begitu melapor, apa yang didapat? Bukannya perbaikan sistem, kawan saya ini malah dituduh “membuat gaduh”. Dia dianggap perusak harmoni kantor. Dia dicap sebagai pembawa masalah.
Logika macam apa ini?
Anda tentu tahu, di banyak organisasi kita hari ini, kenyamanan semu jauh lebih dihargai daripada kebenaran yang pahit. Manajemen seringkali lebih suka kantor yang terlihat tenang – meskipun di dalamnya penuh kebusukan – daripada kantor yang dinamis karena kritik yang membangun.
Bagi mereka, orang yang melapor itu seperti alarm mobil tadi. Berisik. Mengganggu tidur nyenyak mereka. Maka, cara termudah bagi mereka bukanlah mencari tahu siapa pencurinya, melainkan mencabut kabel alarmnya. Atau, membungkam mulut orang yang membunyikan alarm tersebut.
Kalau Anda dituduh membuat gaduh karena melaporkan kesewenang-wenangan, sebenarnya manajemen sedang melakukan pengakuan dosa secara tidak langsung. Mereka sedang mengakui bahwa mereka lebih mencintai ketenangan yang palsu daripada keadilan yang nyata. Mereka sedang mengakui bahwa mereka tidak punya nyali untuk membenahi borok di dalam tubuh sendiri.
Kita sering lupa, masalahnya bukan pada siapa yang berteriak. Masalah sebenarnya adalah: apa yang sedang terjadi di sana sehingga seseorang sampai harus berteriak?
Seorang atasan yang gagal memberikan dukungan dan manajemen yang tidak mau mendengar laporan adalah kombinasi maut bagi sebuah perusahaan. Itu adalah tanda-tanda organisasi yang sedang menuju ke arah “mati rasa”. Mereka kehilangan sensor untuk merasakan sakit, sehingga ketika ada bagian tubuh yang busuk, mereka tidak sadar sampai akhirnya harus diamputasi.
Saya sering merasa aneh. Mengapa keberanian untuk jujur justru dipandang sebagai ancaman? Mengapa kepatuhan buta lebih dipuja daripada profesionalisme yang kritis?
Padahal, organisasi yang sehat itu seperti tubuh manusia. Kalau ada duri menusuk kaki, otak harus menerima sinyal sakit. Sinyal sakit itulah “kegaduhan” yang menyelamatkan. Tanpa rasa sakit, kaki Anda bisa infeksi tanpa Anda sadari.
Bagi kawan saya – dan mungkin bagi Anda yang mengalami hal serupa – jangan berkecil hati saat dicap sebagai pembuat gaduh. Itu artinya, Anda masih memiliki integritas. Anda masih memiliki sensor yang berfungsi saat orang-orang di sekitar Anda mungkin sudah mati rasa demi jabatan atau zona nyaman.
Kesewenang-wenangan itu seperti jamur. Dia tumbuh subur di tempat yang gelap dan lembap, di tempat yang tidak pernah terkena cahaya keterbukaan. Dengan melapor, Anda sedang menyalakan lampu. Tentu saja, mereka yang terbiasa di kegelapan akan merasa silau dan terganggu.
Pada akhirnya, sejarah perusahaan-perusahaan besar dunia membuktikan satu hal: mereka hancur bukan karena kritik dari dalam, tapi karena terlalu banyak orang yang “diam demi keamanan” saat pemimpinnya berjalan menuju jurang.
Jadi, biarlah mereka menyebut Anda berisik. Biarlah mereka menuduh Anda pembuat kegaduhan. Yang penting, Anda tidak menjadi bagian dari mereka yang diam melihat kerusakan.
Refleksi saya sederhana saja: Lebih baik dicap pembuat gaduh karena membela kebenaran, daripada dianggap karyawan teladan namun menjadi sekrup dalam mesin yang merusak nasib orang lain.
Kebenaran itu memang bising. Hanya kebohongan yang butuh kesunyian untuk terus bertahan. *






