--- / --- 00:00 WITA
Narasi  

Kebenaran itu Mahal, Kenapa Kita Sering Takut Bayar?

I Made Suyasa

Menghadapi tudingan dan fitnah adalah bagian dari "harga" menegakkan kebenaran. Jangan pernah biarkan rasa takut membungkam integritas Anda.

Lokapalanews.id | Siang itu, saya sedang menikmati kopi pahit di sebuah warung kecil dekat kantor. Tiba-tiba, seorang tukang ojek yang sudah langganan saya menyapa. Dia bilang begini: “Pak, saya ini tahu betul siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi kalau saya bersuara, besok sepeda motor saya bannya bisa kempes semua. Anak saya mau makan apa?”

Anda lihat? Ini bukan soal politik besar, bukan soal korupsi triliunan. Ini soal ban sepeda motor kempes. Sebuah ancaman kecil, sederhana, tetapi mampu membungkam kebenaran. Kisah tukang ojek ini, entah mengapa, terasa seperti miniatur dari masalah besar yang sedang kita hadapi di negeri ini.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya sering sekali mendengar keluhan seperti yang Anda sampaikan: menegakkan kebenaran itu mahal. Sangat mahal. Risikonya bukan hanya uang, tetapi segala yang Anda miliki: reputasi, pertemanan, bahkan ketenangan tidur.

Begitu Anda angkat suara, label-label busuk akan langsung ditempelkan ke jidat Anda. Dibilanglah Anda itu kuman – makhluk kecil yang mengganggu kenyamanan. Dituding suka buat gaduh. Pembunuhan karakter dilakukan dengan rapi, seolah-olah Anda adalah penjahatnya.

Dan inilah pemicu utama mengapa banyak orang memilih diam. Mereka memilih jalur tol menuju “zona aman.” Siapa yang mau buang-buang energi, waktu, dan uang hanya untuk melawan fitnah yang tak berkesudahan? Siapa yang mau kehilangan teman hanya karena bicara blak-blakan?

Kita melihat dengan mata kepala sendiri, mereka yang durhaka – yang melanggar aturan main, yang arogan – justru semakin besar kepala. Kenapa? Karena mereka merasa dibela. Atau setidaknya, tidak dilawan.

Ketidakbenaran itu ibarat balon yang diisi udara. Kalau terus diisi tanpa ada yang berani menusuknya, balon itu akan terus membesar, menutupi langit, hingga kita semua terbiasa hidup di bawah bayang-bayang kegelapan balon itu.

Baca juga:  KPK Dorong Kampus Perkuat Integritas Mahasiswa

Mengapa kita membiarkan ini terjadi?

Jawabannya klasik: Rasa takut. Takut miskin, takut dipenjara, takut dikucilkan.

Padahal, coba Anda pikirkan. Kerugian terbesar dari memilih diam bukanlah kerugian materi, melainkan kerugian harga diri. Kita kehilangan diri kita yang sejati, yang tahu mana hitam dan mana putih. Kita mengizinkan diri kita menjadi penonton yang pasif ketika keadilan sedang diinjak-injak.

Tentu, saya tidak bilang Anda harus menjadi Don Quixote yang sendirian melawan kincir angin. Jangan. Tetapi, setidaknya, kita harus menemukan cara untuk berbisik secara kolektif.

Ketika satu orang berteriak, dia adalah pembuat gaduh. Tapi ketika sepuluh ribu orang berbisik serempak, itu namanya kekuatan.

Kita harus mulai mengubah definisi “aman.” Aman sejati bukan berarti menghindari masalah, tetapi memiliki integritas yang utuh sehingga fitnah dan tudingan tidak mampu menggoyahkan jiwa Anda.

Saya tahu, konsekuensinya nyata. Saya pun pernah mengalaminya. Dicaci, dimaki, dituduh macam-macam. Tapi di akhir hari, ketika Anda melihat ke cermin, Anda tahu persis siapa Anda dan apa yang Anda perjuangkan. Dan keyakinan itu, Anda tahu, tidak ternilai harganya.

Jika kita tidak bersuara, maka tukang ojek tadi akan selamanya takut ban sepeda motornya kempes. Dan para durhaka akan merasa nyaman sekali di singgasana arogansi mereka.

Mari kita ambil keputusan: Berapa harga yang harus kita bayar untuk bisa tidur nyenyak karena hati nurani kita bersih? Saya yakin, harga integritas itu jauh lebih murah daripada harga penyesalan seumur hidup karena memilih diam. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."