Lokapalanews.id | Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bergerak cepat merespons bencana banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, kementerian mengonsolidasikan 28 perguruan tinggi (PT) Posko dan 11 PT Pendukung dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam penanganan bencana.
“Perguruan tinggi bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga kekuatan kemanusiaan. Kami memastikan seluruh sumber daya perguruan tinggi bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran,” ujar Menteri Brian.
Konsolidasi ini dikukuhkan dalam Rapat Koordinasi Nasional pada Senin (30/11), yang dihadiri lebih dari 160 peserta. Perguruan Tinggi Posko bertindak sebagai pusat komando lapangan, sedangkan PT Pendukung menyediakan tenaga ahli, teknologi, dan pendampingan intervensi. Program ini juga berkoordinasi erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Sosial.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa program tanggap darurat difokuskan pada delapan pilar utama. Pilar tersebut meliputi: distribusi logistik, layanan kesehatan dan gizi, pendampingan psikososial, rehabilitasi sanitasi dan penyediaan air bersih, pendidikan darurat, pemulihan ekonomi, dukungan administrasi publik, serta mitigasi dan edukasi kebencanaan.
“Pilar ini dirancang untuk memastikan respons yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan,” ujar Dirjen Fauzan dalam Pengarahan Tanggap Darurat Bencana Sumatra yang digelar daring, Minggu (30/11).
Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama, Tanggap Darurat (hingga 31 Desember 2025), berfokus pada dukungan logistik, kesehatan, air bersih, sanitasi, dan pemulihan awal. Tahap kedua, Pemulihan (2026), mencakup rehabilitasi dan program inovasi berbasis teknologi.
Kemdiktisaintek memberikan kesempatan bagi setiap perguruan tinggi untuk mengajukan hingga lima proposal dengan plafon Rp500 juta, dengan anggaran yang bersifat fleksibel hingga 85\% untuk mengakomodasi kebutuhan lapangan. Hasil asesmen lapangan mengidentifikasi kebutuhan kritis yang masih belum terpenuhi, termasuk akses jalan terputus, jaringan komunikasi lumpuh, keterbatasan BBM, dan hambatan distribusi logistik. Intervensi yang disiapkan perguruan tinggi mencakup teknologi filtrasi air, desalinasi, dan sanitasi portabel. *R105






