Lokapalanews.id | Jangan kaget. Di banyak tempat, saya sering sekali melihatnya. Fenomena itu.
Bukan soal mobil baru atau rumah mewah. Bukan. Ini soal perubahan sikap. Perubahan karakter. Begitu ada orang yang baru naik jabatan, tiba-tiba dia berubah jadi “orang lain”. Bukan lagi teman Anda yang kemarin, yang diajak ngopi masih ketawa-ketiwi. Sekarang? Dia sudah pasang pagar tinggi.
Saya ingat satu cerita. Dulu, ada seorang kawan. Ramahnya minta ampun. Kalau ketemu, dia yang paling duluan menyapa. Senyumnya lebar. Begitu dapat kursi manajer, kursinya memang empuk. Tapi sikapnya jadi keras, bahkan kaku. Keputusannya? Ugal-ugalan. Tiba-tiba ada pemotongan gaji yang tak jelas juntrungannya, sekadar karena dia tak suka pada wajah seseorang. Orang-orang yang berpotensi jadi pesaingnya, disingkirkan pelan-pelan. Dikarpetmerahkan ke posisi yang tak ada masa depannya.
Ini, Bapak dan Ibu, fenomena yang saya sebut “Raja Kecil di Kantor.”
Fenomena ini adalah penyakit. Penyakit yang membunuh perusahaan dari dalam. Kekuasaan kecil ini dijalankan dengan gaya feodal. Mereka pikir kantor itu sawah milik pribadi yang bisa dipanen sesuka hati.
Mengapa ini terjadi? Sebabnya sederhana: kontrol yang lemah. Di lingkungan kerja yang pengawasannya loyo, transparansi hanya jadi pajangan di dinding, maka kekuasaan itu cepat sekali berubah fungsi. Dari alat untuk memajukan, jadi alat untuk balas dendam atau sekadar pembuktian diri yang norak.
Anda yang berani bersuara lurus, akan cepat-cepat dilabeli “pemberontak.” Lalu, apa yang terjadi di sekeliling si Raja Kecil ini? Muncul gerombolan yang saya sebut ‘penjilat kelas kakap’. Mereka ini belajar cepat. Bahwa loyalitas semu – sekadar mengangguk dan memuji – jauh lebih menguntungkan daripada punya integritas.
Kritik? Dicap ancaman. Diskusi sehat? Diganti dengan tepuk tangan palsu yang memuakkan. Lingkungan kerja kita, yang harusnya jadi tempat bertumbuh, berubah jadi arena bertahan hidup. Organisasi kehilangan rohnya.
Kita harus sadar, sistem ini sangat korosif. Orang-orang baik terpaksa memilih: diam atau tersingkir.
Namun, sejarah kecil di setiap kantor selalu punya akhir yang sama. Hukum alam kekuasaan itu bekerja. Mungkin tak secepat harapan kita. Tapi ingat, setiap keputusan yang lahir dari keserakahan, dari keinginan menindas, itu selalu membawa benih kehancurannya sendiri. Raja Kecil yang merasa paling berkuasa hari ini, besok lusa akan tersingkir oleh sistem yang sudah dia rusak sendiri.
Itulah yang namanya karma di tempat kerja. Ia tidak berteriak, ia tidak terburu-buru. Ia bekerja dalam diam. Dan itu, sungguh, tontonan yang paling menarik. Jadi, jika hari ini Anda melihatnya, tetaplah lurus. Karena kursi jabatan itu sementara, tapi integritas Anda abadi. *yas






