--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Catur dan Pingpong Masalah Kita

Saat masalah muncul di kantor, jangan hanya diam atau melempar tanggung jawab seperti bermain pingpong. Ambil langkah catur yang strategis: hadapi dan tuntaskan segera.

Lokapalanews.id | Saya baru saja menyelesaikan pekerjaan. Saat jeda, mata saya gatal. Bukan karena debu, tapi karena kebiasaan. Saya iseng menatapi layar HP. Ada pesan yang harus dibalas, ada juga berita yang menarik untuk dibaca. Selalu saja begitu, dunia maya lebih ramai daripada dunia nyata di sebelah meja.

Di sebelah saya, ada seorang bapak. Wajahnya serius bukan main. Dia tidak sibuk dengan gawai. Matanya hanya tertuju pada dua kotak kecil: papan catur dan meja pingpong mini. Keduanya diletakkan berdampingan, seperti kakak adik yang akur tapi beda nasib.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Aneh, dia tidak bermain. Dia hanya melihat.

Saya pun iseng, karena orang serius itu gampang diajak bercanda. “Pak, sedang main pingpong mental atau catur batin?” tanya saya.

Dia tersenyum tipis. “Saya sedang melihat bagaimana kita harusnya menyelesaikan masalah, Pak,” katanya sambil menunjuk papan catur. “Kalau di catur, tiap langkah harus jelas. Tiap bidak punya peran. Masalah tidak bisa didiamkan.”

Benar juga. Dalam catur, Anda tak bisa pura-pura tak melihat gajah lawan siap menerkam benteng kita. Kalau kita diam saja, skak mat adalah akhir yang pasti. Alias, selesai riwayat.

Mentalitas Pingpong

Nah, ini dia lucunya. Sering sekali, di kantor, di lingkungan kita, bahkan di level yang lebih tinggi, masalah diperlakukan seperti bola pingpong.

Ada problem, ditanyakan, eh, pemimpinnya malah bungkam, diam seribu bahasa. Seolah-olah, kalau didiamkan sambil komat-kamit, masalah itu akan hilang sendiri. Padahal, masalah itu seperti jamur di tempat lembap: makin didiamkan, makin merajalela dan baunya makin tidak enak.

Justru, dengan bungkam, pemimpin itu sedang ‘melempar bola’ ke udara, menunggu siapa yang mau menangkap dan kena getahnya. Setelah itu, bola dioper lagi, dari satu meja ke meja lain. Di-pingpong ke sana kemari. Cepat sekali gerakannya, plak-plak-plak, tapi tidak ada yang berani memukulnya keras, apalagi menuntaskannya ke luar lapangan.

Baca juga:  Omongan Selangit, Isinya Nol Besar

Anda pasti pernah mengalaminya. Urusan administrasi yang harusnya selesai dalam sehari, tahu-tahu butuh seminggu karena setiap orang yang kita tanya bilang, “Itu bukan urusan saya, coba tanya ke bagian sana.”

Ini adalah mentalitas pingpong yang berbahaya. Cepat, ramai, heboh, tapi tidak ada penyelesaian. Hanya sibuk mengoper tanggung jawab – lebih mirip mengoper ‘kentang panas’ daripada bola.

Belajar dari Langkah Kuda yang Jomblo

Seharusnya, kita belajar dari catur. Di catur, ketika ada ancaman, kita harus segera bereaksi. Apakah dengan mengorbankan bidak kecil yang memang sudah pasrah itu untuk melindungi Raja? Atau melangkah kuda yang gerakannya aneh dan nyeleneh itu untuk menyerang balik? Yang jelas, langkahnya jelas, terencana, dan bertujuan menuntaskan masalah – bukan menghindari masalah.

Seorang pemimpin, atau bahkan kita sebagai individu yang bertanggung jawab, harus punya mentalitas catur.

Ketika masalah muncul – misalnya sebuah kesalahan fatal dalam membuat kebijakan – respons pertama bukanlah diam. Bukan pula menyalahkan orang lain sambil ngopi. Tapi, hadapi bidak itu. Ambil tanggung jawab, putuskan langkah terbaik, dan selesaikan.

Kalau masalahnya seperti pion yang bergerak pelan, selesaikan saat itu juga agar tidak sempat berubah jadi menteri di akhir permainan. Kalau masalahnya sebesar ratu lawan, ya harus dipikirkan strategi jangka panjang yang membuat dahi berkerut.

Intinya satu: Masalah tidak bisa didiamkan, apalagi dianggap remeh.

Saat ini, sudah terlalu banyak masalah yang di-pingpong, dilempar sana-sini, hanya karena tak ada yang berani mengambil langkah catur yang berani dan bertanggung jawab.

Mari kita berhenti bermain pingpong dengan masalah. Bolanya capek. Mari kita bermain catur. Ambil posisi, lihat papan secara keseluruhan, dan buat langkah yang akan membawa kita pada kemenangan sejati, bukan sekadar menghindari kekalahan sementara sambil lempar-lemparan bola. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."