--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kenapa Pemimpin Diam?

Seorang pemimpin memilih diam saat ditanya publik - diam yang bisa menenangkan, tapi juga bisa merusak kepercayaan.

Lokapalanews.id | Saya pernah melihat seorang rektor. Di kampus yang cukup punya nama. Suatu kali, ia dikerumuni wartawan. Pertanyaannya soal kasus yang sedang hangat di kampusnya.

Sang rektor tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Menunduk. Lalu pergi.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya sempat menduga-duga. “Pasti strategi. Menghindar, mengulur waktu,” pikir saya. Tapi ternyata tidak. Seorang stafnya berbisik, “Bapak Rektor itu tidak tahu apa-apa. Ia hanya diam karena tidak tahu harus bicara apa.”

Begitulah. Bungkam bukan hal baru. Anda pasti sering melihatnya. Di TV, di berita, di kantor Anda sendiri. Pemimpin yang tiba-tiba “bisulan” di lidah.

Kenapa mereka memilih bungkam?

Ada yang takut ribut. Konfrontasi memang melelahkan. Kadang, lebih baik diam, berharap badai reda sendiri. Ada yang memang tidak siap. Datanya tidak ada. Jawabannya kosong. Daripada terlihat bodoh, lebih baik pura-pura tuli.

Tapi ada juga yang bungkam karena itu strategi. Mengulur waktu. Menunggu situasi tenang. Atau berharap orang-orang lupa.

Diam juga bisa soal kuasa. Pemimpin takut terlihat lemah. Takut kehilangan wibawa. Dengan diam, mereka merasa masih memegang kendali. Masih jadi “raja” yang tak bisa diganggu gugat.

Namun, diam tidak selalu emas. Sering kali, diam justru jadi api dalam sekam. Bawahan curiga. Publik gelisah.

Yang paling parah, kalau diam itu untuk menutupi kebusukan. Fakta diputarbalikkan. Informasi dikunci rapat. Semua demi menjaga citra. Demi keuntungan kelompok sendiri.

Inilah yang sering merusak. Kepercayaan hilang. Lingkungan kerja penuh kecurigaan.

Saya jadi ingat pepatah lama. Kejujuran kadang menyakitkan, tapi kebohongan kecil bisa melahirkan masalah besar.

Mungkin Anda pernah merasakannya. Atasan diam, tapi Anda tahu ada yang tidak beres. Rasanya tidak enak, bukan?

Baca juga:  Manusia Palsu dan Drama Kehidupan

Karena itu, saya percaya: seorang pemimpin harus berani bicara. Tidak harus selalu benar. Tidak harus selalu lengkap.

Tapi setidaknya, jujur.

Diam boleh. Tapi jangan terlalu lama. Apalagi jika diam itu untuk menutupi kebenaran.

Pada akhirnya, pemimpin tidak dinilai dari seberapa rapat ia menutup mulut, tapi dari keberaniannya untuk membuka suara. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."