Lokapalanews.id | Pagi-pagi, saya baca berita. Ada seorang pegawai diberhentikan. Gara-gara menolak kebijakan pimpinan yang arogan. Banyak yang mencemoohnya. “Cari masalah saja,” kata mereka. “Harusnya diam. Ikut saja.”
Kenapa diam? Kenapa ikut saja?
Saya jadi teringat dua penyakit yang paling umum hari ini. Pertama, apatis. Kedua, ikut-ikutan.
Apatis itu seperti mematikan lampu di rumah. Lalu bilang, “Gelap sekali di luar sana.” Padahal, ia sendiri yang memilih untuk tidak menyalakan apa-apa. Apatis itu memilih untuk tidak peduli, tidak ikut campur. Menganggap semua baik-baik saja, padahal ketidakadilan ada di depan mata. Apatis adalah kematian nurani yang disengaja.
Lalu, ada penyakit lain: ikut-ikutan. Ini jauh lebih ramai. Kita ikut tren. Ikut kata orang. Ikut yang sedang viral di media sosial. Meskipun tahu itu salah, kita tetap melakukannya. Karena takut dibilang aneh. Takut tidak punya teman. Takut keluar dari lingkaran. Kita membiarkan diri hanyut dalam arus, tanpa pernah bertanya, “Arus ini mau ke mana?”
Apatis dan ikut-ikutan. Keduanya adalah bentuk kekalahan manusia. Mengubur keberanian untuk berpikir, mengubur keberanian untuk bersuara. Kita jadi manusia tanpa pendirian. Hanya boneka yang digerakkan oleh tali yang tidak terlihat.
Lalu, ada nama Soe Hok Gie.
Ia memilih jalan yang berbeda. Jalan yang sunyi dan menantang. Jalan manusia merdeka.
Bagi Gie, merdeka bukan hanya soal negara bebas dari penjajah. Merdeka itu soal batin, soal nurani. Merdeka itu berani menolak meski sendirian. Berani berbicara meski dicibir. Berani melawan meski kalah jumlah. Kemerdekaan itu adalah kesetiaan pada kebenaran, bukan pada kenyamanan. Bukan pada popularitas.
Ia tahu, kebebasan sejati tidak lahir dari kenyamanan. Tapi dari keberanian menanggung risiko. Berani miskin demi prinsip. Berani tidak disukai demi kebenaran. Di tengah hiruk-pikuk politik yang penuh sandiwara dan kepura-puraan, menjadi manusia merdeka adalah pilihan yang terasa berat. Apalagi di era sekarang, di mana suara mayoritas sering kali lebih ditentukan oleh tren ketimbang nalar sehat.
Namun, pilihan ini justru yang paling mendesak. Tanpa orang-orang yang berani merdeka, bangsa hanya akan berjalan dalam kegelapan. Dipimpin oleh kebohongan yang terus menerus diputar hingga dianggap sebagai kebenaran.
Pesan Gie bukan hanya untuk para aktivis. Pesan itu untuk kita semua. Jangan pernah rela menjadi apatis atau sekadar ikut-ikutan. Pilihlah untuk merdeka, meski dunia menentang.
Sebab, pada akhirnya, hanya dengan keberanian menjaga kebebasan batin, manusia bisa benar-benar hidup. Dan seperti Gie, kita bisa berkata dengan jujur, “Aku tidak menyesal memilih jalan ini.” *yas






