--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Fitnah Itu Ibarat Sarapan Pagi

Lokapalanews.id | Saya terbiasa menghadapi fitnah. Bahkan, terkadang itu sudah seperti sarapan pagi. Saya kadang kaget, namun lebih sering merasa santai karena saya tahu, kebenaran pada akhirnya akan terungkap.

Belakangan ini, ada yang menuduh saya suka menyebarkan berita miring dan mengumbar aib di media sosial. Lucunya, tuduhan itu datang dari orang yang tidak punya medsos dan tidak paham cara kerjanya. Saya langsung membantah. “Silakan cek sendiri akun medsos saya,” begitu bantah saya. Saya yakin, mereka tidak akan menemukan apa-apa.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Fitnah lain yang pernah saya hadapi datang dari seorang pejabat. Ia menyebut saya dipecat dari salah satu perguruan tinggi. Padahal, faktanya saya mengundurkan diri baik-baik karena ingin fokus pada satu tempat karier saja. Orang itu sebenarnya sudah tahu masalah pengunduran diri itu, karena sudah pernah saya ceritakan. Sayangnya, ia malah menyebar fitnah.

Saya tahu, memfitnah adalah cara orang untuk mencari perhatian atau menutupi kekurangan. Saya tidak marah, hanya berpikir, mengapa mereka begitu suka memfitnah?

Seorang teman lama, seorang tokoh senior, pernah berpesan. “Jika ada yang memfitnah, jangan langsung marah. Coba cari, apa motifnya.”

Motifnya bisa macam-macam. Bisa saja karena ketakutan. Takut siasat busuknya terbongkar dan khawatir kekuasaannya terganggu. Mereka menggunakan fitnah untuk menjatuhkan agar mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa juga karena iri hati. Mereka menyebar kabar buruk agar kita terlihat buruk di mata orang lain.

Ini yang paling sering terjadi, kesalahpahaman. Niat baik seperti misalnya memberikan saran dan kritik sering disalahartikan sebagai bentuk intervensi.

Fitnah adalah kebalikan dari berita. Berita didasarkan pada fakta, sementara fitnah didasarkan pada kebencian.

Baca juga:  Ijazah Palsu? Siap-siap! Penjara Menanti, Denda Rp 200 Juta Siap Melayang!

Saya tidak punya jurus sakti, hanya punya cara yang saya yakini bisa membuat hidup lebih tenang. Salah satunya tidak membalas. Ini paling sulit, tapi paling efektif. Membalas fitnah hanya akan memperkeruh keadaan.

Kerja terus itu adalah pilihan. Saya percaya, hasil kerja nyata akan berbicara. Kata-kata bisa bohong, tapi hasil tidak.

Ini yang paling sulit memaafkan. Tapi, memaafkan akan membuat hati lebih lapang dan pikiran tidak sibuk dengan dendam.

Di zaman yang sudah maju ini, fitnah bisa menyebar dengan sangat cepat. Tapi, seperti kata pepatah lama, sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Kebenaran, pada akhirnya, akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita hanya satu: tetap lurus! *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."