--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Ijazah Bodong

Lokapalanews.id | Saya selalu membayangkan pendidikan itu seperti jembatan. Jembatan dari kemiskinan menuju kemakmuran. Jembatan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan.

Maka, ketika membaca berita tentang ijazah “bodong”, hati saya langsung miris. Ini bukan cuma jembatan yang lapuk. Ini jembatan yang sengaja dirusak. Biang keroknya satu: pengawasan lemah.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Negara ini aneh. Mengawasi pedagang kaki lima di pinggir jalan saja ketat. Tapi mengawasi kampus yang mencetak masa depan bangsa, kok longgar?

Otonomi kampus. Begitu kata mereka. Otonomi memang penting. Tapi otonomi tanpa pengawasan itu bukan kebebasan. Itu sama saja dengan membiarkan anak main api di rumah dengan bensin.

Saya heran. Mengapa ada orang yang mau membeli ijazah? Apakah mereka tidak tahu? Ijazah itu bukan cuma selembar kertas. Itu bukti perjuangan. Bukti keringat dan otak.

Ketika Anda membeli ijazah, Anda tidak cuma membeli ilusi. Anda juga menjual diri Anda. Menjual integritas. Menjual harga diri.

Apa yang bisa diharapkan dari orang-orang seperti ini? Mereka akan jadi dokter yang tidak bisa mengobati? Insinyur yang tidak bisa membangun? Atau pemimpin yang tidak punya moral? Masa depan bangsa ini jadi taruhannya.

Sanksi harus tegas. Jangan cuma ditegur. Tutup saja kampusnya. Cabut izinnya. Ganti kuncinya.

Ini bukan soal bisnis. Ini soal pendidikan.

Tapi menutup kampus saja tidak cukup. Kementerian harus proaktif. Jangan menunggu laporan. Datangi kampus-kampus itu. Lihat prosesnya. Cek dosennya. Cek kurikulumnya. Jangan hanya percaya pada laporan di atas kertas.

Pendidikan adalah investasi terbesar kita. Jangan biarkan investasi itu dicuri.

Ijazah harus kembali menjadi bukti kompetensi, bukan bukti pembayaran. Hanya dengan begitu, kita bisa membangun jembatan yang kokoh. Bukan jembatan dari ilusi yang rapuh. *yas