Lokapalanews.id | Saya ingat satu sore, di Denpasar. Di satu warung kopi yang tak terlalu besar. Kami berempat, mengobrol. Topiknya biasa saja. Dari politik hingga masa lalu. Dari masa lalu, topiknya membelok ke urusan personal. Soal pasangan. Soal kesetiaan. Dan soal perselingkuhan.
“Orang narsis itu gampang selingkuh,” kata teman saya. Tanpa tedeng aling-aling. “Mereka itu selalu merasa ada yang kurang. Seolah-olah hubungan yang sekarang itu nggak pernah cukup.”
Saya terdiam sejenak. Pikiran saya melayang. Selalu ada yang kurang? Bukankah itu yang mendorong kita untuk mencari yang lebih baik? Mengembangkan diri? Menjadi pribadi yang lebih utuh? Tapi, kata-katanya tadi terasa berbeda. Lebih dari sekadar mencari kebaikan. Lebih ke soal kekosongan.
Seseorang dengan kepribadian narsistik, atau narcissistic personality disorder (NPD), punya karakteristik unik. Mereka memiliki rasa mementingkan diri sendiri yang berlebihan, butuh pengaguman, dan kurangnya empati. Mereka seperti hidup di panggung yang hanya ada satu bintang: diri mereka sendiri. Orang lain? Mereka adalah penonton, atau bahkan alat peraga.
Perselingkuhan bagi mereka bukanlah soal mencari cinta baru. Bukan juga soal kesalahan yang tak sengaja. Ini lebih ke soal validasi. Mereka terus-menerus mencari pengakuan. Mereka butuh orang lain untuk mengatakan, “Kamu hebat. Kamu luar biasa. Kamu yang terbaik.” Jika pasangan mereka sudah tidak bisa lagi memberikan validasi sebesar yang mereka butuhkan, mereka akan mencari sumber lain.
Penelitian dari Universitas Oklahoma dan Universitas Georgia menunjukkan data yang menarik. Pasangan dengan satu orang yang menunjukkan ciri-ciri narsistik memiliki kecenderungan 30% lebih tinggi untuk tidak setia. Angka ini bukan sekadar statistik. Ini potret nyata. Potret dari hati yang kosong dan terus mencari.
Saya jadi teringat satu kasus yang sempat viral beberapa waktu lalu. Seorang tokoh publik, dihormati. Punya pasangan yang dianggap serasi. Tapi, terungkap perselingkuhannya dengan beberapa orang sekaligus. Alasan yang diucapkannya saat itu, “Saya butuh tantangan baru.” Ada yang menerjemahkan itu sebagai ambisi. Saya curiga itu soal narsisme. Mereka melihat perselingkuhan sebagai trofi. Sebuah bukti bahwa mereka masih menarik, masih berharga.
Ada lagi hal lain. Orang narsistik juga suka memanfaatkan orang lain. Dalam hubungan, mereka cenderung manipulatif. Mereka akan memanipulasi pasangan agar merasa bersalah, merasa tidak mampu, dan pada akhirnya, merasa bersyukur bisa bersama dengan mereka. Pola ini disebut gaslighting. Perselingkuhan mereka? Itu bisa jadi salah satu bentuk manipulasi. Cara untuk mengendalikan pasangan agar tetap berada dalam kendali mereka.
Lantas, apakah setiap orang yang selingkuh itu narsistik? Tentu tidak. Selingkuh punya banyak alasan. Ada soal krisis di tengah hubungan. Ada soal ketidakpuasan seksual. Ada soal balas dendam. Tapi, jika kita menemukan pola berulang – selingkuh demi validasi, manipulasi emosional, dan tidak adanya empati – mungkin kita perlu melihat lebih dalam. Mungkin ini bukan sekadar soal nafsu. Tapi, soal kekosongan hati yang tidak pernah terisi.
Artikel di Psychology Today pernah menuliskan, “Narsisis melihat pasangan mereka sebagai objek, bukan sebagai manusia utuh.” Ini kalimat yang menusuk. Dalam pikiran saya, jika kita melihat orang lain sebagai objek, kita tidak akan pernah bisa mencintai mereka. Kita hanya bisa memilikinya. Dan jika objek itu mulai usang, kita akan mencarinya yang baru.
Begitulah. Dari obrolan di warung kopi sore itu, saya belajar satu hal. Perselingkuhan itu tidak selalu soal cinta yang pudar. Kadang, itu soal hati yang tak pernah punya cinta. Hati yang selalu kosong. Dan hati yang terus-menerus mencari, tapi tidak pernah menemukan. *yas






