Lokapalanews.id | Jakarta – Inovasi dari perguruan tinggi kini hadir langsung di tengah masyarakat. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan program Kosabangsa 2025 yang melibatkan 118 perguruan tinggi untuk menjawab tantangan bangsa, mulai dari stunting, kemiskinan ekstrem, hingga penguatan ekonomi lokal di wilayah tertinggal.
Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek mengalokasikan dana Rp30 miliar untuk program ini, yang menjangkau 24 provinsi dan 63 kabupaten/kota. Kosabangsa digagas sebagai gerakan sosial berbasis inovasi, di mana kampus tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga agen perubahan yang solutif.
“Implementasi Kosabangsa adalah bagaimana kampus membawa ilmu pengetahuan dan teknologi ke masyarakat untuk menjawab masalah hari ini serta membangun solusi yang berkelanjutan,” ujar Dirjen Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, menekankan kunci keberhasilan program ini terletak pada kolaborasi lintas sektor. “Kuncinya adalah merumuskan problem statement yang jelas sehingga program benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat,” katanya.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, Kosabangsa membantu pemerintah daerah mengatasi isu stunting yang menjadi perhatian utama. Hal ini ditegaskan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka, yang melihat manfaat program ini langsung terasa di daerah.
Kosabangsa 2025 menjadi bukti bahwa sains dan teknologi dapat menjadi gerakan pembangunan inklusif. Program ini menyasar berbagai isu, mulai dari ekonomi kreatif, energi terbarukan, hingga swasembada pangan. Dengan melibatkan kampus, LLDIKTI, pemerintah daerah, dan masyarakat, Kosabangsa diharapkan melahirkan solusi berkelanjutan bagi pembangunan nasional. *R103






