--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Ada Apa dengan Wisuda?

I Made Suyasa

Lokapalanews.id | Saya melihat ribuan orang merayakan wisuda. Ribuan orang yang berbondong-bondong ke hotel, aula kampus, berfoto, dan bersorak-sorai. Orang tua bangga, dosen senyum, rektor berpidato. Semuanya terlihat sempurna. Tapi, saya melihat ada yang salah dengan wisuda.

Wisuda seharusnya menjadi momen perayaan atas ilmu yang didapat, atas proses yang dilalui, atas kerja keras yang berbuah. Tapi, sekarang wisuda seringkali menjadi perayaan atas ijazah. Atas selembar kertas yang berharga, yang dianggap sebagai kunci kesuksesan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Ijazah. Apa itu ijazah? Selembar kertas yang berisi nama, gelar, dan IPK. Apakah ijazah menjamin Anda sukses? Apakah ijazah menjamin Anda punya pekerjaan yang bagus? Tidak. Banyak orang sukses yang tidak punya ijazah, dan banyak orang yang punya ijazah, tapi tidak sukses.

Saya tidak meremehkan ijazah. Saya hanya ingin mengatakan, ijazah tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Ijazah hanya simbol. Simbol dari proses belajar yang sudah Anda lalui.

Tapi, sekarang wisuda menjadi sebuah ritual. Ritual yang harus dijalani. Ritual yang menghabiskan banyak uang. Mulai dari sewa toga, make-up, sewa fotografer, hingga pesta perayaan. Semua itu hanya untuk merayakan selembar kertas.

Saya tidak tahu sejak kapan wisuda menjadi semacam ritual seperti ini. Dulu, wisuda itu sederhana. Tidak perlu sewa toga mahal, tidak perlu make-up tebal, tidak perlu pesta besar-besaran. Wisuda adalah momen sakral, di mana mahasiswa secara resmi dilepas oleh kampus. Momen di mana mahasiswa siap terjun ke dunia nyata.

Ketika Wisuda Menjadi Bisnis
Wisuda sekarang menjadi bisnis. Bisnis yang menguntungkan. Bagi kampus, wisuda adalah ajang promosi. Bagi fotografer, wisuda adalah ladang uang. Bagi perias wajah, wisuda adalah rezeki nomplok.

Wisuda juga menjadi ajang pamer. Pamer kesuksesan, pamer kekayaan. Mahasiswa berfoto dengan mobil mewah, pamer perhiasan mahal. Ini bukan lagi perayaan atas ilmu, tapi perayaan atas materi.

Saya tidak menyalahkan mahasiswa yang merayakan wisuda dengan meriah. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk berpikir. Apa yang sebenarnya kita rayakan? Apakah ijazah? Atau proses belajar yang sudah kita lalui?
Jika yang kita rayakan hanya ijazah, maka kita sudah salah. Ijazah bisa dibeli. Ijazah bisa dipalsukan. Tapi, ilmu tidak bisa dibeli. Ilmu tidak bisa dipalsukan.

Maka dari itu, saya berharap kita bisa mengembalikan makna wisuda yang sebenarnya. Wisuda sebagai momen perayaan atas ilmu, atas proses, atas kerja keras. Bukan wisuda sebagai ajang pamer, ajang bisnis, atau ritual belaka.

Mengapa Wisuda Kita Jadi Begitu?
Wisuda kita sekarang memang sudah jauh dari esensi awalnya. Bukan lagi soal perayaan ilmu, tapi perayaan simbol. Dulu, wisuda itu sederhana. Mungkin ada pidato rektor yang membosankan, lalu para lulusan dipanggil satu per satu, bersalaman, dan berfoto sebentar. Tidak ada drama, tidak ada pameran. Toga yang dipakai juga mungkin dipinjamkan dari kampus, bukan disewa dengan harga selangit. Orang tua datang dengan pakaian seadanya, yang penting bisa melihat anaknya meraih ijazah.

Tapi, sekarang wisuda sudah menjadi ajang bisnis. Bisnis yang menguntungkan bagi banyak pihak. Kampus, yang dulunya tempat menimba ilmu, kini juga berpikir bagaimana wisuda bisa jadi ladang uang. Mereka bekerja sama dengan vendor-vendor, mulai dari fotografer, perias wajah, hingga perusahaan katering. Hasilnya, wisuda menjadi acara yang mahal.

Baca juga:  Pemerintah Suntik Dana Rp110 Miliar untuk Riset Kampus

Mahasiswa, yang seharusnya fokus pada persiapan diri untuk dunia kerja, malah sibuk memikirkan bagaimana tampil sempurna di hari wisuda. Sibuk mencari fotografer terbaik, sibuk mencari perias wajah termahal, sibuk menyewa mobil mewah untuk pameran. Ini bukan lagi soal perayaan, ini soal gengsi.

Ijazah, Simbol Kesuksesan yang Keliru
Saya tidak mengatakan bahwa ijazah tidak penting. Ijazah itu penting sebagai pengakuan formal atas kompetensi. Tapi, ijazah hanyalah simbol. Simbol dari proses belajar yang sudah Anda lalui. Jika Anda berhenti di simbol, Anda sudah kalah.

Kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa banyak gelar yang Anda miliki, atau seberapa bagus IPK Anda. Kesuksesan sejati diukur dari seberapa banyak Anda berkontribusi, seberapa banyak masalah yang bisa Anda selesaikan, dan seberapa banyak manfaat yang bisa Anda berikan kepada orang lain.

Sayangnya, kita seringkali keliru dalam mendefinisikan kesuksesan. Kita menganggap kesuksesan adalah punya ijazah dari perguruan tinggi ternama, punya pekerjaan dengan gaji besar, atau punya mobil mewah. Padahal, itu semua hanya simbol.

Maka, sudah saatnya kita kembali ke esensi. Esensi pendidikan adalah membentuk manusia yang cerdas, berintegritas, dan bermanfaat. Esensi wisuda adalah merayakan proses tersebut. Bukan merayakan selembar kertas, bukan merayakan gengsi, bukan merayakan bisnis.

Wisuda yang harus Kita Ubah
Budaya wisuda kita sudah terlalu jauh dari makna aslinya. Ia sudah menjadi ajang pamer, ajang bisnis, dan perayaan simbol-simbol kosong. Ini bukan lagi soal perayaan ilmu, tapi perayaan gengsi.

Bagaimana cara mengubahnya? Saya rasa perubahan harus dimulai dari kesadaran. Kesadaran dari kita semua, para dosen, mahasiswa, orang tua, dan bahkan pimpinan perguruan tinggi. Kita harus menyadari bahwa wisuda bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan yang baru.

Pertama, kita harus mengubah cara pandang kita terhadap ijazah. Ijazah bukan simbol kesuksesan. Ia hanya simbol pengakuan. Pengakuan bahwa Anda sudah menyelesaikan studi. Pengakuan bahwa Anda punya kompetensi. Tapi, kompetensi itu harus dibuktikan di dunia nyata, bukan di atas kertas.

Kedua, kita harus mengubah cara pandang kita terhadap wisuda. Wisuda bukan ajang pamer. Wisuda adalah momen sakral, di mana mahasiswa dilepas oleh kampus. Momen di mana mahasiswa siap terjun ke dunia nyata, mengaplikasikan ilmu yang didapat.

Ketiga, kampus harus mengambil peran. Kampus tidak boleh lagi menjadikan wisuda sebagai ladang bisnis. Kampus harus memfasilitasi wisuda yang sederhana, tapi bermakna. Wisuda yang tidak memberatkan mahasiswa, tapi tetap menghormati proses yang sudah dilalui.

Saya tidak tahu apakah perubahan ini akan mudah. Saya tidak tahu apakah perubahan ini akan cepat. Tapi, saya yakin, perubahan ini harus dimulai. Jika tidak, wisuda akan terus menjadi perayaan yang hampa, perayaan yang jauh dari esensi pendidikan.

Mari kita ubah wisuda. Mari kita kembalikan makna wisuda yang sebenarnya. Wisuda sebagai perayaan ilmu, bukan perayaan ijazah. Wisuda sebagai perayaan proses, bukan perayaan gengsi.

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: apakah kita masih akan melihat wisuda yang penuh dengan pameran dan bisnis, ataukah kita akan melihat wisuda yang sederhana, tapi penuh makna? *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *