Lokapalanews.id | “Pak, dulu saya sangat mengaguminya. Jaringannya luas, bicaranya selalu indah didengar, programnya masuk akal. Semua orang bilang, dia ini orang pintar, harapan kita semua,” kata seorang rekan, seorang pegawai yang dulu getol mendukungnya.
Ia menunduk, seolah malu dengan kekagumannya sendiri di masa lalu.
“Tapi, setelah menjabat, kenapa dia jadi begitu, Pak?” tanyanya dengan nada penuh kekecewaan.
Itu pertanyaan yang tak mudah dijawab. Apalagi, pertanyaan itu bukan hanya mewakili satu orang. Pertanyaan itu mewakili jutaan orang yang pernah punya harapan, lalu harapan itu diludahi begitu saja.
Dulu, ia memang terlihat pintar. Jaringannya tak main-main, dari politisi senior hingga pengusaha kakap. Di setiap forum, bicaranya selalu memukau. Ia pandai beretorika, piawai menyusun kalimat, dan selalu punya argumen yang kuat. Kita semua berdecak kagum.
Tapi, begitu kekuasaan ada di genggamannya, semua itu seperti menguap. Akal sehatnya, yang dulu kita anggap tajam, seolah tumpul. Ia mulai mengambil kebijakan-kebijakan yang kontroversial, bahkan nyaris absurd. Kebijakan yang tidak pro-rakyat, tapi lebih pro-kelompoknya, atau lebih tepatnya, pro-dompetnya sendiri.
Ia mulai korupsi. Pelan-pelan, tapi pasti. Mulai dari yang kecil, sampai yang besar. Ia seolah menganggap uang rakyat itu adalah warisan pribadi. Ia yang dulu bicara soal transparansi, kini jadi biang kerok dari segala proyek siluman.
Karakter busuk lainnya pun ikut tumbuh subur: keangkuhan.
Ia menjadi arogan. Tak mau mendengarkan masukan. Bahkan dari orang-orang yang dulu berjuang bersamanya. Baginya, ia adalah yang paling hebat. Ia adalah yang paling benar. Siapa pun yang berani mengkritik, dianggap musuh.
“Dulu, ia bilang karier itu ditentukan oleh kerja keras. Sekarang, karier itu ditentukan oleh kedekatan dengannya,” keluh pegawai itu lagi.
Ya, ia mulai menghambat karier orang-orang yang dianggap tidak setia. Orang-orang yang berani bersuara kritis, langsung dibekukan. Disingkirkan dari jabatan. Diganti dengan para “penjilat” yang hanya pandai mengangguk.
Kekuasaan Bukan Alat, Tapi Pembuktian
Kekuasaan itu bukan sekadar alat untuk menjalankan program. Kekuasaan adalah pembuktian. Pembuktian siapa kita sebenarnya. Pembuktian seberapa kuat prinsip kita. Pembuktian seberapa tebal urat malu kita.
Pemimpin yang sejati, begitu ia punya kekuasaan, ia akan makin rendah hati. Ia akan makin haus akan masukan. Ia akan makin gencar membangun dan melayani.
Sedangkan pemimpin yang palsu, begitu ia punya kekuasaan, ia akan berubah. Dari yang tadinya pintar, menjadi bodoh oleh keserakahan. Dari yang tadinya merakyat, menjadi angkuh tak karuan.
Pria tua dengan kopiah lusuh yang saya temui itu, mungkin sudah tahu semua ini. Matanya sudah lelah melihat janji-janji yang tak terbukti. Saya hanya bisa berbisik dalam hati, semoga kita semua tidak lagi terperdaya oleh gaya yang mempesona, tapi lupa mengecek isi hati dan urat malu yang sudah hilang. *yas






