--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Sampah Bali, Tamparan Koster yang Jujur

I Made Suyasa

Lokapalanews.id | Ini bukan lagi soal bisul kecil, ini aib. Sampah di Bali sudah seperti kanker yang menyebar, membusuk di setiap sudutnya. Nanahnya meluber ke sungai, ke laut, ke bukit. Bau busuknya sudah bersaing dengan wangi dupa. Sebuah ironi yang sangat menyakitkan.

Turis datang, mereka melihat Bali dari lensa kamera. Mereka mengambil foto-foto indah, tapi tak menyadari di balik keindahan itu, ada tumpukan sampah yang menjulang. Sampah yang dibuang turis, sampah yang dibuang masyarakat, dan yang paling parah, pemerintah yang buang badan.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Saya setuju dengan Gubernur Koster. “Sampah dibikin sendiri, selesaikan sendiri.” Kata-kata itu adalah tamparan yang jujur. Tamparan untuk membangunkan kita dari tidur panjang. Selama ini kita dimanja. Buang sampah sembarangan, lalu menunggu petugas kebersihan datang. Mentalitas inilah yang harus dibunuh.

Tapi, persoalannya bukan hanya soal mentalitas. Pemerintah pun tak boleh lepas tangan. TPA Suwung harus ditutup. Itu sudah final. Namun, jika TPA ditutup, lalu sampah mau dibuang ke mana? Apakah cukup hanya mengandalkan kesadaran masyarakat? Tentu tidak. Kesadaran tanpa sistem adalah kekacauan.

Pemerintah juga harus menyediakan solusi. Infrastruktur yang memadai. Sistem yang terintegrasi. Sistem yang bisa mengolah sampah dari hulu ke hilir. Dari rumah tangga, ke bank sampah, ke tempat pengolahan, hingga menjadi energi atau produk baru.

Ini bukan soal siapa yang salah. Ini soal kita semua. Pemerintah, masyarakat, turis. Semua punya andil. Tapi, yang punya kuasa dan dana untuk menyelesaikan masalah ini, ya pemerintah. Pernyataan Gubernur Koster itu tamparan untuk kita semua. Tamparan untuk masyarakat yang masih buang sampah sembarangan. Dan tamparan untuk pemerintah yang belum juga menemukan solusi yang tepat.

Baca juga:  Digitalisasi Akreditasi: Menakar Integritas Mutu Pendidikan Tinggi di Tengah Badai Konflik

Bali itu indah. Tapi, keindahan itu akan membusuk jika sampah terus menumpuk. Bali harus bersih. Bukan hanya dari sampah, tapi juga dari mentalitas “buang sampah, orang lain yang urus”. *

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *