--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Kekuasaan adalah Racun, Ego adalah Pengawetnya

Lokapalanews.id | Ada dua hal yang bila bersatu, efeknya bisa lebih dahsyat dari bom atom: ego dan kekuasaan. Yang satu adalah penyakit jiwa, yang satu lagi adalah panggung tempat penyakit itu menari-nari dengan leluasa.

Saya sering melihat pola ini berulang. Saat belum memiliki kekuasaan, bicaranya begitu manis. “Saya di sini untuk rakyat,” katanya. “Saya akan memajukan bangsa,” janjinya. Namun, begitu kekuasaan dalam genggaman, egonya ikut naik. Perlahan, seperti air mendidih, ia mulai meluap.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Mereka mulai lupa dari mana mereka berasal. Lupa bahwa kekuasaan itu sejatinya amanah, bukan hak milik pribadi. Mereka memandang sekeliling, dan yang terlihat hanyalah orang-orang yang harus tunduk. Mereka haus akan pengakuan, butuh sanjungan. Setiap kritik dianggap serangan, setiap masukan dianggap pembangkangan.

Saya teringat seorang teman lama. Dulu, ia begitu sederhana. Pakaiannya seadanya, bicaranya apa adanya. Setelah menjadi pejabat, semuanya berubah. Mobilnya berganti, pakaiannya berganti, bahkan cara bicaranya pun tak sama lagi. Ia menjadi sulit dihubungi, sulit ditemui. Bicaranya sekarang selalu diawali dengan “kebijakan saya,” “prestasi saya,” seolah-olah semua itu hasil keringatnya sendiri.

Ini bukan semata-mata soal uang atau harta. Ini soal kebutuhan untuk diakui. Kekuasaan memberikan ego panggung yang sangat besar. Di panggung itu, seorang pemimpin bisa menjadi aktor tunggal. Ia bisa membuat aturan, mengeluarkan perintah, dan menentukan nasib banyak orang. Ketika semua orang tunduk, egonya merasa paling besar, paling penting, paling benar.

Padahal, kekuasaan itu ibarat api. Jika digunakan untuk menghangatkan, ia bisa menjadi sumber kehidupan. Namun, jika digunakan untuk membakar, ia bisa menghancurkan segalanya. Ego yang membesar itulah yang mengubah kekuasaan menjadi api yang membakar.

Baca juga:  Omon-Omon, Itu Nama Penyakit

Pemimpin yang baik tidak butuh panggung. Mereka butuh hasil. Mereka tidak haus tepuk tangan. Mereka butuh kepercayaan. Mereka tidak merasa paling benar, karena mereka sadar, kebenaran itu datang dari banyak kepala, bukan dari satu ego saja.

Pada akhirnya, kekuasaan itu sementara. Namun, kerusakan yang diakibatkan oleh ego bisa jadi abadi. Ia menghancurkan kepercayaan, mengikis integritas, dan meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Jangan biarkan ego meracuni kekuasaan kita. Sebab saat itu terjadi, yang akan hancur bukan hanya kita, melainkan seluruh yang kita pimpin. *yas

Lokapalanews.id "Penjaga informasi di tengah bisingnya disinformasi. Kami berdiri untuk kebenaran yang terverifikasi."

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *