--- / --- 00:00 WITA
Kolom  

Dosen dan Gaji Maut

I Made Suyasa

Lokapalanews.id | Perguruan tinggi seharusnya tempatnya orang-orang pintar. Tempatnya para intelektual, guru besar, dan calon-calon pemimpin bangsa. Tapi, di balik menara gading itu, ternyata ada “penyakit” yang sama dengan di tempat lain: korupsi.

Kasus-kasus yang muncul belakangan ini membuat kita geleng-geleng kepala. Ada rektor yang tertangkap karena suap penerimaan mahasiswa baru. Ada pimpinan universitas yang terlibat proyek pengadaan fiktif. Uang yang seharusnya dipakai untuk penelitian, beasiswa, atau perbaikan fasilitas, malah mengalir ke kantong segelintir orang. Ini ironis. Kampus yang seharusnya menjadi benteng moral, justru menjadi sarang praktik tidak bermoral.

Eksplorasi Konten Baca Tulisan Mendalam & Cerita Pilihan Kami

Di sisi lain, ada fakta lain yang tidak kalah memilukan: gaji dosen dan staf pengajar yang rendah. Dosen muda, yang baru memulai karir, gajinya seringkali tidak sebanding dengan biaya hidup. Mereka harus berjuang mati-matian, mengajar di sana-sini, menulis jurnal, demi mendapatkan tambahan penghasilan. Ini menciptakan celah.

Ketika gaji tidak cukup untuk hidup layak, dan di depan mata ada peluang untuk “main mata” dengan uang proyek, godaan itu jadi sangat besar. Tentu saja, tidak semua dosen atau pegawai kampus korup. Banyak yang berintegritas tinggi. Tapi, sistem yang tidak adil ini, di mana yang di atas bisa kaya raya dari korupsi sementara yang di bawah berjuang untuk hidup, akan selalu menciptakan bibit-bibit masalah.

Solusinya tidak hanya menangkapi koruptor. Itu sudah pasti. Solusi jangka panjangnya adalah membangun sistem yang lebih baik. Gaji yang layak, transparansi anggaran, dan pengawasan yang ketat. Kampus harus kembali menjadi tempat yang bersih, tempat di mana ilmu dan integritas benar-benar dihargai. Bukan tempat di mana uang bisa membeli segalanya. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *